Faedah Surat ALFATIHAH

Sebagai as-Sab'ul Matsani (Tujuh ayat yang di ulang-ulang)
Imam Al-Bukhari rahimahullah, meriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mu’alla r.a, berkata :
يَا رَسُولَ اللَّهِ!، إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ، قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ. {رواه البخاري (٥٠٠٦)}. حديث صحيح“Wahai Rasulullah!, sesungguhnya engkau telah berkata : Sungguh akan aku ajarkan kepadamu pada seagung-agungnya surat dari Al-Qur’an, beliau SAW, bersabda : Alhamdulillaahi Robbil ‘Alamiin, ia adalah As-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang diulang-ulang), dan Al-Qur’an yang agung yang aku telah diberikannya”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 5006).

 
Dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Ubaiy bin Ka’ab r.a, dengan redaksi :
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلاَ فِي اْلإِنْجِيلِ وَلاَ فِي الزَّبُورِ وَلاَ فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا، وَإِنَّهَا سَبْعٌ مِنَ الْمَثَانِي، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُهُ. {رواه الترمذي (٢٨٧٥)}. حديث حسن

“Demi Dzat yang jiwaku di genggaman-Nya, tidaklah diturunkan di dalam Taurat, dan tidak di dalam Injil, dan tidak di dalam Zabur, dan tidak pula di dalam Al-Qur’an sepertinya, dan sesungguhnya ia adalah As-Sab’ul Matsani, dan Al-Qur’an yang agung yang aku telah diberikannya”. (H.R. At-Tirmidzi, No Hadits : 2875). Dan ia berkata : Ini adalah hadits hasan lagi shohih.
SEBAGAI OBAT PENAWAR RACUN
Dalam hadits yang panjang Imam Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, berkata :
إنْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ، فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ، فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ : لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ، فَأَتَوْهُمْ، فَقَالُوا : يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ، إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ : نَعَمْ، وَاللَّهِ، إِنِّي لَأَرْقِي، وَلَكِنْ وَاللَّهِ، لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ، فَلَمْ تُضَيِّفُونَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ، حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلاً، فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الْغَنَمِ، فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي، وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ، قَالَ : فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمْ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ : إقْسِمُوا، فَقَالَ الَّذِي رَقَى : لاَ تَفْعَلُوا، حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا، فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرُوا لَهُ : فَقَالَ : وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ ثُمَّ قَالَ : قَدْ أَصَبْتُمْ، إقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا، فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. {رواه البخاري (٢٢٧٦)، ومسلم (٢٢١٠)، وأصحاب السنن}. حديث صحيح

Telah pergi serombongan dari para sahabat Nabi SAW, dalam suatu perjalanan yang mereka adakan, sehingga mereka singgah di suatu penduduk kampung dari perkampungan orang Arab, lalu mereka (para sahabat) meminta bertamu kepada mereka (penduduk kampung), namun penduduk itu enggan menerima mereka sebagai tamu, kemudian kepala suku kampung itu disengat oleh binatang beracun, kemudian mereka berupaya dengan tiap-tiap sesuatu untuknya, namun segala sesuatu itu tidak berguna baginya, maka berkatalah sebagian mereka : Kalau sekiranya kalian mendatangi rombongan itu yang mereka telah singgah, kemungkinannya bila ada sesuatu di sisi sebagian mereka, kemudian mereka mendatangi rombongan sahabat, lalu berkata : “Wahai rombongan, sesungguhnya tuan kami telah disengat binatang berbisa, dan kami telah berupaya untuknya dengan tiap-tiap sesuatu, namun tidak berguna kepadanya, maka apakah di antara kalian ada yang memiliki sesuatu?, maka sebagian sahabat berkata : “ya”, dan demi Allah, sesungguhnya saya akan meruqyah, akan tetapi demi Allah, sungguh kami telah meminta bertamu kepada kalian, dan kalian tidak menerima kami sebagai tamu, maka saya tidak akan meruqyah bagi kalian, sehingga kalian menjadikan untuk kami suatu upah, kemudian mereka menyetujuinya dengan upah beberapa ekor kambing, lalu ia (peruqyah) pergi dan meludahi di atas bekas sengatan, ia membaca : Al-Hamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin (maksudnya adalah Surat Al-Fatihah), lalu ia (kepala suku itu) sembuh total, dan ia dapat berjalan, dan tidaklah ia merasa sakit sama sekali. Ia (perawi) berkata : Lalu mereka (penduduk kampung itu) memenuhi upah mereka yang telah mereka sepakati atasnya. Maka berkatalah sebagian para sahabat : Bagilah oleh kalian semua!, lalu berkata orang yang telah meruqyah : Janganlah kalian melakukannya, sehingga kami datang kepada Rasulullah SAW, lalu kami ceritakan kepada beliau apa yang telah terjadi, maka kami akan melihat apakah yang akan beliau perintahkan kepada kami!, kemudian mereka datang kepada Rasulullah SAW, lalu mereka meyebutkan hal itu kepada beliau, kemudian beliau bersabda : Bagaimana kamu tahu kalau sesungguhnya ia (Surat Al-Fatihah) adalah ruqyah?, kemudian beliau bersabda : Sungguh kalian telah benar, bagi-bagilah oleh kalian semua, dan jadikanlah bersama kalian untukku satu bagian!. Lalu Rasulullah SAW, tertawa”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 2276, dan Muslim, No Hadits : 2210, dan Ashab As-Sunan).
SEBAGAI RUQYAH MENGOBATI ORANG GILA
Imam Abu Dawud rahimahullah, meriwayatkan dari Khorijah bin As-Shalt At-Taimiy, dari pamannya (‘Ilaqoh bin Shukhar r.a), sesungguhnya ia berkata :
أَقْبَلْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْنَا عَلَى حَيٍّ مِنَ الْعَرَبِ، فَقَالُوا : إِنَّا أُنْبِئْنَا أَنَّكُمْ قَدْ جِئْتُمْ مِنْ عِنْدِ هَذَا الرَّجُلِ بِخَيْرٍ، فَهَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رُقْيَةٍ؟ فَإِنَّ عِنْدَنَا مَعْتُوهًا فِي الْقُيُودِ، قَالَ : فَقُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ : فَجَاءُوا بِمَعْتُوهٍ فِي الْقُيُودِ، قَالَ : فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ، ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ غُدْوَةً وَعَشِيَّةً، كُلَّمَا خَتَمْتُهَا أَجْمَعُ بُزَاقِي، ثُمَّ أَتْفُلُ، فَكَأَنَّمَا نَشَطَ مِنْ عِقَالٍ، قَالَ : فَأَعْطَوْنِي جُعْلاً، فَقُلْتُ : لاَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : كُلْ فَلَعَمْرِي مَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ. {رواه أبو داود (٣٩٠١، و٣٨٩٦)}. حديث حسن

“Kami telah menghadap dari sisi Rasulullah SAW, lalu kami datang ke perkampungan orang Arab, kemudian mereka (penduduk kampung) berkata : Sesungguhnya kami telah diberi kabar, bahwasanya kalian telah datang dari sisi lelaki ini dengan membawa kebaikan, maka apakah kalian mempunyai obat atau ruqyah, karena sesunguhnya di sisi kami ada seorang yang kurang waras akalnya (GILA) di dalam ikatan. Ia (perawi) berkata : Kami (‘Ilaqoh) berkata : “Ya”, ia (perawi) berkata : Maka mereka mendatangi orang yang kurang waras akalnya di dalam ikatan, ia (‘Ilaqoh) berkata : Saya bacakan atasnya Surat Al-Fatihah selama tiga hari, pagi dan sore, tiap-tiap aku mengakhiri (bacaan Al-Fatihah), aku mengumpulkan ludahku, kemudian aku semburkan. Ia berkata : Lalu ia sembuh total. Ia berkata : Maka mereka memberiku upah. Lalu aku berkata : Tidak, sehingga aku bertanya kepada Rasulullah SAW, maka beliau SAW, bersabda : Makanlah, demi umurku, ada seseorang yang makan dengan hasil ruqyah kebathilan, sungguh kamu telah makan dengan hasil ruqyah kebenaran”. (H.R. Abu Dawud, No Hadits : 3901, dan 3896).
Surat Al-Fatihah itu dapat digunakan untuk apa saja tergantung niat dan tujuan orang yang membacanya, Rasululloh SAW bersabda :
الْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ