Imam Jalaluddin As-Suyuti, Sang Pencinta Ilmu

Hujjatul Islam: Imam Jalaluddin As-Suyuti, Sang Pencinta Ilmu

Imam Jalaluddin As-Suyuti adalah seorang penulis berkebangsaan Mesir, ulama sekaligus pakar hukum dan guru di bidang teologi Islam.
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Fadl Abdurrahman bin Abu Bakar Jalaluddin As- Suyuti. Kata As-Suyuti yang tersemat dalam namanya merujuk pada sebuah kota di pinggriran Mesir bernama Asyut, yang merupakan tempat kelahiran sang ayah dan tempat di mana sang kakek mendirikan sebuah sekolah.Imam As-Suyuti lahir di bulan Rajab 849 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1445 Masehi di Kairo, Mesir. Ayahnya, Al-Kamaal, merupakan seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i.Sementara kedua kakeknya dikenal sebagai pemimpin dan pemuka yang amat disegani di daerah tempat tinggalnya, sebagaimana diungkapkan As-Suyuti dalam kitab Husnul Muhadarah.Ia dibesarkan sebagai seorang yatim piatu setelah ayahnya meninggal saat usianya baru menginjak lima tahun. Sepeninggal ayahnya, ia diasuh oleh Al-Kamaal Ibn Al-Hamam, seorang ahli hukum dari mazhab Hanafi sekaligus orang yang dipercaya oleh almarhum ayahnya untuk mengasuh dan mendidik As-Suyuti.

Ketika menginjak usia delapan tahun, Al-Suyuti berhasil menghafal seluruh isi Alquran. Tak hanya menghafal Alquran, sejumlah kitab-kitab fikih juga berhasil ia hafal, di antaranya Al-Umdah, Minhaaj Al-Fiqh wal Ushul, dan Alfiyyah Ibn Malik.
Pada tahun 864 H, saat usianya 15 tahun, dia mulai secara intens mempelajari berbagai macam pengetahuan agama. Ia mempelajari fikih dan pengetahuan tentang tata bahasa Arab dari beberapa guru yang berbeda. Ia juga belajar hukum waris kepada para ulama besar, salah satu di antaranya adalah Syekh Shihabuddin Al-Shaar Masaahi.Sementara ilmu fikih, ia pelajari dari Syekh Al-Islam Sirajuddin Al-Balqini. Ia berguru kepada Al-Balqini hingga sang guru tutup usia pada 878 H. Sepeninggal Syekh Al-Balqini, Suyuti melanjutkan belajar ilmu fikih dan tafsir kepada Syekh Sharafuddin Al-Manawi. Gurunya ini adalah seorang cendekiawan yang menulis kitab Faidul Qadir, yang merupakan penjelasan tentang kitab As-Suyuti, Al-Jaami'us Shagir.Ilmu-ilmu hadits dan bahasa Arab juga ia pelajari di bawah bimbingan Taqi'uddin Al-Shumni Al-Hanafi. Ia juga mempelajari tafsir, usul fikih, dan ma'ani dengan cara hadir dalam pertemuan yang digagas oleh seorang ulama besar, Al-Kafiji. Hal tersebut, ia jalani hampir empat belas tahun lamanya. Dari Al-Kafiji kemudian ia memperoleh ijazah dalam bidang keagamaan. Ia juga rajin mengikuti kelas kajian tafsir dan balaghah yang diselenggarakan oleh Saifuddin Al-Hanafi. Dari para ulama dan cendekiawan yang menjadi gurunya, Al-Suyuti memperoleh ijazah dalam setiap bidang ilmu yang dipelajarinya.Karenanya tak mengherankan jika ijazah yang dimilikinya mencapai 150 buah sesuai dengan jumlah gurunya. Mengenai jumlah gurunya ini, telah ia ungkapkan dalam kitabnya, Husnul Muhadarah.''Adapun guru-guru yang pernah aku ikuti pengajarannya dan memberi saya ijazah dalam bidang keagamaan, banyak sekali jumlahnya. Tetapi aku telah mengumpulkan nama-nama mereka, dan menghitung mereka hingga mencapai nomor 150,'' ungkapnya.
Pribadi sederhanaKarena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya di bidang agama, As-Suyuti mendapat julukan Ibnul Kutub (anaknya para buku). Orang-orang yang pernah dekat dengan As-Suyuti semasa hidupnya mengenal sosok ulama Mesir yang satu ini sebagai pribadi yang sederhana, baik hati, saleh, takut kepada Allah, puas dengan rezeki yang telah ia terima dari profesinya sebagai guru.Mengenai sifatnya yang terakhir ini, banyak di antara para penguasa dan orang-orang kaya yang hidup di zamannya yang kerap menawarkan jabatan tinggi dan kehidupan mewah kepadanya. Namun, semua itu ia tolak dengan halus.Selain menuntut ilmu, As-Suyuti juga menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat, di antaranya ke Syam, Hijaz, Yaman, India dan Maroko. Namun saat menginjak usia lanjut, ia lebih memilih untuk tinggal dan menetap di tanah kelahirannya, Mesir.
Dan sejak saat itu memilih untuk menarik diri dari khalayak ramai serta lebih banyak berdiam diri di dalam rumahnya dan menyibukkan diri dengan aktivitas menulis dan penelitian. Hal ini dilakukannya hingga ia jatuh sakit selama tujuh hari, yang berakhir dengan kematiannya pada bulan Jumadil Ula tahun 911 H, atau bertepatan dengan tahun 1505 M.Kehidupan sehari-hari As-Suyuti tidak pernah jauh dari ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya. Karenanya masa hidupnya ia habiskan di bidang pendidikan. Ia sudah menjadi seorang guru di usianya yang terbilang masih belia, yakni 17 tahun. Ia juga tercatat pernah menduduki berbagai jabatan penting yang berkaitan erat dengan bidang pendidikan. Di antaranya ia pernah menjadi guru bahasa Arab pada tahun 866 H/1462 M, berwenang untuk memberikan fatwa di tahun 876 H/1472 M dan mengajar hadits di Universitas Ibn Tulun.