NGAJI HIKAM #16

NGAJI HIKAM #16

Bismillahirrahmanirrahim
Mari kita mulai Ngaji Hikm 16 dengan menghadiahakn Fthah untuk Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu say Nyai Salam.
Mari kita mulai. Bismillah.
--------------------------------
MEDITASI SYEKH IBN ATAILLAH (4)
Syekh Ibn Ataillah berkata:

Am kaifa yarju an yafhama daqa’iq al-asrar wahuwa lam yatub min hafawatihi?

Terjemahan:
Atau, bagaimana seseorang berharap bisa memahami rahasia-rahasia ketuhanan yang terdalam sementara dia belum bertaubat dari kesalahan-kesalahannya?

Pengertian awam/umum. Taubat adalah tindakan yang sangat penting dalam kehidupan seorang beriman. Taubat artinya kembali ke jalan kesadaran setelah untuk sementara waktu seseorang terjatuh dalam situasi kelengahan, kealpaan, lalai. Tanpa taubat, seseorang akan terus berada dalam situasi lupa diri, tak ingat tujuan utama dalam hidupnya. Lupa pada sumber kehidupan, yaitu Tuhan.

Seseorang tak akan bisa memahami rahasia kehidupan yang terdalam jika dia lupa, dia tak bertaubat. Dosa adalah kedaan ketika kita lengah, lupa diri, tak sadar akan orientasi. Dosa membuat kita jauh dari diri kita sendiri. Jika kita makin jauh dari diri kita sendiri yang sesungguhnya (“real self”), maka kita juga akan jauh dari Tuhan. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh para sufi, barang siapa mengetahui dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhan. Man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu. Sebab, Tuhan pada dasarnya ada dalam diri kita sendiri.
Dosa adalah bak sebuah hija atau telekung yang menghalangi kita dari diri kita sendiri, juga penghalang yang menutup kita dari Tuhan. Bagaimana mungkin engkau bisa mengenal dirimua, mengenal Tuhanmu, jika dirimu berada dalam situasi lengah karena tenggelam dalam (istilah Sykeh Ibn Ataillah) “hafawat”, atau kesalahan-kesalahan.

Hafawat, istilah yang dipakai oleh Sykeh Ibn Ataillah di sini, memiliki arti “zallah” atau terpeleset. Seseorang yang berdosa adalah orang yang sedang terpeleset. Kata itu juga berarti “al-saqthah” yang artinya terjatuh. Seorang yang berdosa sama dengan berada dalam kondisi jatuh. Ini mengingatkan kita pada Nabi Adam yang terjatuh dari sorga karena melakukan kesalahan: yaitu tak bisa menahan diri dari godaan setan, sehingga ia melanggar larangan Tuhan.

Jatuh dalam kesalahan dan dosa adalah sesuatu yang manusiawi. Sebab, manusia dalam bahasa Arab disebut sebagai “insan”. Kata insan memiliki akar yang sama dengan “nisyan” yang artinya adalah lupa.
Mengalami situasi lupa dan lengah adalah sangat manusiawi. Tetapi, yang membedakan manusia yang baik dan tidak ialah apakah ia ingat kembali setelah lupa, atau membiarkan diri terus-menerus dalam kelupaan. Jika manusia dikehendaki oleh Tuhan menjadi orang yang baik, ia akan kembali ke jalan kesadaran setelah lupa. Kembali kepada Tuhan.

Ada pengertian yan implisit atau tak tersurat dalam meditasi Ibn Ataillah ini. Kesalahan dan dosa jika dibarengi dengan taubat akan menaikkan derajat seseorang, sehingga dia bisa memahami rahasia-rahasia ketuhanan yang terdalam. Meskipun ini bukan berarti bahwa seseorang harus berdosa dulu sebelum memahami rahasia Tuhan. Bukan. Tetapi apa yang mau disampaikan oleh Ibn Ataillah ialah bahwa kesalahan yang dibarengi dengan sikap mawas diri, kembali ke jalan yang benar, bertaubat, akan mengantar seseorang kepada rahasia ketuhanan.
Pengetian khusus/mistik. Syekh Ibn Ajibah berkata: memahami rahasia Tuhan atau “asrar” tak akan bisa terjadi jika seseorang terus-menerus berada dalam keadaan lupa atau “israr”. Asrar dan israr tidak bisa jalan bareng. Jika seseorang berada dalam keadaan israr, lengah terus-terusan, dia sudah pasti akan menjauh dari asrar atau ilmu Tuhan yang paling rahasia.

Yang disebut dengan “asrar” atau rahasia Tuhan di sini ialah rahasia dzat (esensi) Tuhan dan sifat-sifatNya yang mewujud dalam bentuk yang terlihat oleh indera kita, yaitu wujud fisik atau alam (akwan).
Apa yang bisa kita pelajari dari meditasi Syekh Ibn Ataillah kali ini? Ialah bahwa manusia harus menerus dalam kondisi “alert”, sadar, tidak lengah. Ciri seorang yang beriman adaalh dia harus terus-menerus berzikir, atau ingat Tuhan. Ini bukan sekedar zikir dalam pengertian mengulang-ulang nama Tuhan sebagaimana kita pahami selama ini. Tapi zikir dalam pengertian “alertness”, eling atau ingat, dan waspada.
______________

KESIMPULAN NGAJI HIKAM #16

1. Seorang beriman harus berusaha terus berada dalam keadaan ingat kepadaNya, Ingat di sini bukan sekedar menyebut asma Tuhan dalam zikir. Zikir lisan adalah sarana saja untuk mengingat Tuhan. Mengingat Tuhan yang sebenarnya adalah manakala kita, dalam hidup ini, terus bisa menjaga agar terus ingat dan waspada. Ingat akan tujuan hidup yang sesungguhnya, dan waspada terhadap segala hal yang bisa memalingkan kita dari sana.

2. Jika kita berada dalam keadaan lengah, atau berdosa, mustahil bagi kita untuk bisa mengenal dan memahami rahasia Tuhan. Kecuali kita bertaubat, kembali kepada kesadaran dan balik ke kondisi "ingat". Jika kita membiarkan diri kita berada dalam keadaan lupa diri, maka janganlah berharap bahwa kita bisa memahami rahasia Tuhan.

3. Mengenali rahasia Tuhan adalah sumber kebahagiaan dalam hidup. Seorang yang jatuh terpeleset, lalai akan hakekat diri sendiri ("real self"), lengah terhadap Tuhan, maka dia akan mengalami keadaan resah, "confusion" alias bingung, dan tak bahagia. Dosa adalah sumber ketidak bahagiaan dalam hidup.
Mungkin, untuk sementara waktu, dosa memimbulkan kepuasan fisik untuk beberapa saat. Tetapi dalam jangka panjang, dosa adalah sumber keresahan dan kenestapaan.

Ya Allah, jadikan kita semua sebagai orang-orang yang terus ingat dan waspada.

Sampai ketemu di Ngaji Hikam #17 besok malam. Mari kita tutup pengajian ini dengan bacaan hamdalah.

Wassalam..