NGAJI HIKAM #21

NGAJI HIKAM #21


Bismillahirrahmanirrahim

Mari kita mulai Ngaji Hikam #21 ini dengan menghadiahkan Fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan sekaligus guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah...

Catatan: Saya masih ada di luar negeri, sehingga belum bisa menunggui teman-teman dan memberikan tanggapan atas semua respon dan pertanyaan. Mohon maaf. Pengajian tetap berlangsung setiap hari.

---------------------------------
BAGAIMANA MENJADI “SUFI” DI ERA DIGITAL?

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Kaifa yutashawwaru an yahjubahu syai’un wahuwa adzharu min kulli syai’in? Kaifa yutashawwaru an yahjubahu syai’un wa-huwa ‘l-ladzi laisa ma’ahu syai’un? Kaifa yutashawwaru an yahjubahu syai’un wa-huwa aqrabu ilaika min kulli syai’in? Kaifa yutashawwaru an yahjubahu syai’un wa-laulahu la-ma dzahara wujudu kulli syai’in?

Terjemahan:
Bagaimana mungkin Dia terhijab dan terhalang oleh sesuatu
Sementara Dia lebih terang-benderang dari segala barang?
Bagaimana Dia terhijab oleh sesuatu
Sementara tak ada sesuatu yang lain bersama Dia?
Bagaimana Dia bisa terhijab oleh sesuatu
Sementara Dia lebih dekat kepadamu
Dari segala wujud yang ada?
Bagaimana Dia bisa terhijab
Sementara Dia adalah Dia
Yang tanpaNya, segala sesuatu gelap, tak nampak?

Renungan Syekh Ibn Ataillah ini masih berkaitan dengan renungan-renungan sebelumnya. Ia masih berbicara tentang Kebenaran (dengan K besar) yang tak mungkin dihijab dan dihalangi-halangi oleh segala sesuatu jika Dia menghendaki diriNya untuk menampakkan diri kepada kita. Kita bisa memahami kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Sebagaimana dikemukakan dalam bagian sebelumnya, Kebenaran adalah bagai cahya yang begitu terang yang tak mungkin ditutup oleh apapun. Pada momen ketika kemunculan cahaya kebenaran, “moment of truth,” sudah tiba, tak ada siapapun yang bisa menghalanginya.

Banyak skandal besar dalam sejarah yang semula terpendam dan terkubur, tetapi pelan-pelan kemudian muncul ke permukaan. Alam bekerja dengan cara yang misterius. Manusia kerap mencoba untuk menyembunyikan kebenaran, tetapi makar dan usahanya itu kerapkali “muspra”, sia-sia. Sebab, cepat atau lambat, kebenaran akan muncul ke permukaan.

Ini mengingatkan kita kepada kisah Yusuf dan isteri Potifar, seorang pegawai pada kerajaan Firaun. Sebagaimana kita baca dalam Surah Yusuf di Quran, isteri Potifar (konon namanya Zulekha) pernah menggoda Yusuf untuk melakukan tindakan percabulan. Yusuf menolak dan hendak lari dari hadapannya. Zulekha menarik baju Yusuf dari arah depan dan robek. Lalu Potifar masuk rumah dan mendapati situasi yang mencurigakan itu. Zulekha mengadu kepada suaminya bahwa Yusuf hendak menggodanya. Yusuf kemudian dipenjara dengan tuduhan hendak mencabuli isteri seorang petinggi kerajaan.

Tentu saja, Zulekha menyampakan versi yang bohong tentang peristiwa skandal itu. Semula banyak yang mempercyai versinya. Tetapi, pelan-pelan, kebenaran terungkap, dan akhirnya Zulekha mengaku bersalah. Dia membuat pengakuan: Dia memang jatuh cinta pada Yusuf dan yang terakhir ini menolak. Pengakuan itulah “moment of truth”. Kebenaran, jika sudah matang, akan “mlethek”, pecah dengan sendirinya seperti sebuah bisul. Dia tak bisa dihalang-halangi.

Pengertian khusus. Seseorang, jika masih dalam keadaan terhijab, terhalang, sehingga tak bisa melihat dan menjumpai Tuhan, dia mempunyai sangkaan dan asumsi bahwa wujud dirinya sebagai makhluk/manusia adalah wujud yang “daruri”, wujud yang niscaya, wujud yang riil dan nyata. Dia menganggap bahwa dirinya adalah “the real being”. Pada saat yang sama dia juga beranggapan bahwa wujud Tuhan adalah wujud yang semu, wujud yang “nadzari”, teoritis, konseptual.

Tetapi, jika seorang hamba pelan-pelan, dan secara konsisten, melakukan perjalanan dan meningkat maqam-nya lebih tinggi, yaitu maqam memahami Kebenaran ketuhanan, dan lebur di dalamnya, dia akan mengalami situasi spiritual dan eksistensial yang sama sekali berbeda. Dia akan menganggap bahwa yang konseptual dan teoritis adalah wujudnya sendiri. Sementara yang ada secara “daruri”, secara sungguh-sungguh, adalah Tuhan.

Orang yang mencapai tahap ma’rifat akan memahami bahwa Tuhan adalah wujud yang lebih terang dari wujud apapun; bahwa Tuhan adalah wujud satu-satunya, sementara yang lain adalah wujud yang semu; bahwa Tuhan adalah wujud yang jauh lebih dekat kepada manusia tinimbang wujud apapun; bahwa Tuhan adalah “kekuatan” yang membuat segala sesuatu bisa tampak ada ke permukaan.

Apa yang bisa kita pelajari dari kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini? Bagi sebagian orang, mungkin renungan Ibn Ataillah ini adalah renungan “elitis” yang hanya relevan bagi orang-orang “khawass”, orang-orang sufi yang telah mencapai tahap spiritual yang tertinggi. Pandangan semacam ini, menurut saya, keliru.

Kebijaksanaan Ibn Ataillah ini relevan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita telah mengetahui kebenaran, mengerti duduk soal segala masalah, memahami versi yang sebenarnya dari sebuah informasi, kita tak akan terombang-ambing oleh rumor, sas-sus, berita-berita yang simpang-siur.

Betapa relevannya kebijaksanaan Ibn Ataillah di era digital sekarang, di era di mana ribuan informasi yang kerap simpang-siur membombardir kita setiap detik. Kita sering dibuat bingung, sebab informasi datang dengan semacam “framing” atau kerangka tertentu yang berbeda-beda. Kesimpang-siuran ini adalah simbol dari dunia maya yang memiliki wajah yang bermacam-macam. Mirip dengan Rahwana yang multi-wajah. Kita dibuat bingung olehnya.

Tugas kita sebagai manusia yang berpikir dan beriman adalah menapis informasi itu, sehingga kita bisa mengetahui duduk masalah yang sebenar-benarnya, tidak diombang-ambingkan oleh rumor dan opini yang saling tabrakan.

Mencari kejelasan di tengah kebingungan ini adalah sama dengan seorang sufi yang mencari Kebeneran di tengah-tengah realitas yang maya, yang sering berubah-ubah seperti partikel neutrino yang kemaren sempat menjadi pembicaraan luas karena Hadiah Nobel Fisika 2015 yang diberikan kepada dua ilmuwan yang meneliti partikel super-mini ini.

Anda harus menjadi “sufi” di tengah-tengah ledakan informasi yang kerap menipu ini. Kebijaksanaan Ibn Ataillah ini adalah semacam kiat bagaimana menjadi “sufi” di tengah-tengah era digital![]

Bersambung......