NGAJI HIKAM #22

NGAJI HIKAM #22

Bismillahirrahmanirrahim

Mari kita mulai Ngaji Hikam #22 ini dengan menghadiakan Fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah.

---------------------------------
YANG MAYA AKAN PUDAR OLEH YANG ABADI

Syekh Ibn Ataillah berkata:
Ya ‘ajaban kaifa yadzharu al-wujudu fi al-‘adam? Am kaifa yatsbutu al-haditsu ma’a man lahu washf al-qidam?

Artinya:
O alangkah mengherankan!
Bagaimana ciptaan ini bisa tampak
Padahal ia maya?
Atau, bagaimana sesuatu yang baru
Bisa tetap tegak
Di hadapan Dia yang Maha Abadi?

Mari kita menelaah kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Jika dua hal bersandingan, yang satu sifatnya maya, sementara yang lain adalah sesuatu yang abadi, maka sudah pasti yang maya akan pudar, akan terkalahkan oleh yang abadi itu. Atau, jika kebenaran dan kesalahan bertemu, sudah pasti kebenaran akan menaklukkan kesalahan. Kebenaran adalah sesuatu yang sifatnya abadi. Ia tak bisa dikalahkan oleh kesalahan.

Untuk sementara waktu, kadang-kadang kekeliruan, tipuan, dusta dan rekayasa bisa menang dan menguasai “opini publik”. Tetapi pelan-pelan, sesuatu yang sifatnya tipuan, superfisial akan pudar bersama berlalunya waktu. Ia tak akan tahan lama. Sebab, hanya kebenaran yang bisa bertahan lama. Kekeliruan dan citraan yang menipu, walau disokong oleh propaganda yang luas dan indoktrinasi yang massif, pelan-pelan ia akan tampak bolong-bolongnya.

Quran memiliki sebuah metafor yang menarik. Kekeliruan dan tipuan adalah seperti buih yang kelihatan besar di permukaan air. Tetapi ia sejatinya keropos, dan akan cepat dihanyutkan air. Tetapi kebenaran akan bertahan lama dan membawa manfaat yang luas bagi banyak orang. Wa amma ma yanfa’u al-nasa fa-yamkutsu fi al-ard (QS 13:17).

Ini adalah hukum sosial yang berlaku objektif dan universal. Propaganda, di manapun, tak akan bertahan lama, meskipun milyaran rupiah ditumpahkan untuk membiayainya. Kita ingat bagaimana indoktrinasi dan propaganda yang dilakukan oleh Orde Baru dahulu untuk “memoles” kekejaman-kekejaman yang terjadi pada 1965. Selama bertahun-tahun murid-murid sekolah di Indonesia diberikan informasi yang keliru dan menyesatkan mengenai peristiwa itu. Milyaran, mungkin trilyunan rupiah dimobilisasi untuk membiayai proganda itu.

Tetapi, akhirnya toh propaganda itu tak bisa bertahan lama. Akhirnya ia terkuak juga kepalsuannya. Akhirnya, kebenara, walau dibungkam selama puluhan tahun, tetap muncul ke permukaan.

Di seluruh dunia, kita menyaksikan kasus yang serupa. Setiap usaha untuk menutupi kebenaran, dan memoles kekeliruan, pada akhirnya akan sia-sia belaka. Pada akhirnya, tak ada yang bisa menghalangi kebenaran untuk muncul ke permukaan, jika saatnya telah tiba.

Pengertian khusus. Dalam pandangan sufisme Islam, wujud yang riil dan sebenar-benar wujud hanyalah Tuhan. Yang lain adalah wujud yang maya; wujud yang sifatnya derivatif: wujud yang bersumber dari wujudnya Tuhan. Jika Yang Abadi bersanding dan berada secara berdampingan dengan yang relatif, sudah tentu Yang Abadi akan menenggelamkan wujud yang relatif itu. Jika Tuhan berdampingan dengan manusia, maka manusia akan tenggelam dalam wujud Tuhan. Manusia akan hilang, seperti debu.

Ada kisah tentang wali besar dari Persia, Imam Junaid (w. 1204). Suatu hari ada seseorang yang berkata: Al-hamdu li ‘l-Lah. Puji bagi Tuhan. Dia tidak meneruskan ucapan itu dan menambahkan frasa ini: Rabb al-‘alamin (Tuhan seluruh alam raya). Kata Imam Junaid; Sempurnakan kalimatmu, Wahai saudaraku! Jawab orang itu:

Apakah aku harus menyebut sesuatu selain Tuhan (yaitu “al-‘alamin”), sementara yang selain Tuhan tak memiliki nilai apa-apa di samping-Nya.

Tukas Imam Junaid selanjutnya: Kamu tetap perlu menyempurnakan kalimatmu. Sebab, jika yang baru (“al-hadits”) engkau sebut bersama dengan Yang Abadi (“al-qadim”), maka yang baru dan relatif itu akan luruh wujudnya (talasya) oleh Yang Abadi itu.

Dengan kata lain, Imam Junaid mau menunjukkan bahwa ungkapan “Al-hamdu li ‘l-Lahi rabb al-‘alamin” tetap perlu diucapkan secara sempurna, tidak dipotong seperti dilakukan seorang sufi yang merupakan kawan Imam Junaid itu. Sebab dengan menyebut dua hal itu, yakni Tuhan dan ciptaan-Nya, akan kelihatan kontras antara Yang Abadi dan yang maya. Dengan kontras itu, kita akan mengerti bahwa Yang Abadi akan memudarkan dan mengalahkan yang relatif. Dan kita bisa belajar tentang kekuatan kebenaran ilahiah, walau ia semula tak tampak gemerlap di permukaan.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari taman kebijaksaan Ibn Ataillah ini? Kebijaksanaan ini memberikan rasa optimis kepada “true believer”, orang-orang yang memiliki keyakinan teguh, bahwa kebenaran pada akhirnya akan berada di atas angin, meski untuk beberapa saat dia bisa saja berada di bawah angin dan tersembunyi di balik “kenyataan semu” yang dipeluk oleh banyak orang.

Di balik setiap kebenaran ada Tuhan Yang Maha Benar. Dan wujud Tuan adalah wujud yang hakiki; ia tidak bisa ditenggelamkan oleh wujud-wujud lain yang sifatnya maya dan relatif![]

Bersambung......