NGAJI HIKAM #24

NGAJI HIKAM #24

Bismillahirrahmanirrahim

Mari kita mulai Ngaji Hikam #24 kali ini dengan menghadiahkan Fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan sekaligus guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah.
______________________
JANGAN MENUNDA PEKERJAAN

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ihalatuka al-a’mala ‘ala wujud al-faraghi min ru’unat al-nufus.

Terjemahan:
Kebiasaanmu menunda pekerjaan hingga engkau mempunyai waktu longgar untuk mengerjakannya adalah bagian dari kotoran jiwa.

Apa yang disampaikan oleh Syekh Ibn Ataillah ini sangat jelas. Menunda pekerjaan adalah kebiasaan yang “kotor”. Ini pengertian yang sederhana, tetapi tak semua orang mampu melaksanakannya. Mari kita coba ulas kebijaksanaan Sykeh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Entah kenapa, penyakit menunda pekerjaan bisa dipastikan pernah diderita oleh semua orang. Setiap orang sudah pasti pernah mengalami hal ini. Yang menarik ialah: kita sering kali merasakan kegembiraan saat melaksanakan suatu pekerjaan manakala pekerjaan ibelum merupakan keharusan.

Begitu ia menjadi keharusan, menjadi kewajiban yang harus kita selesaikan dengan tenggat waktu tertentu, tiba-tiba kita merasakan beban tertentu yang membuat kita menunda-nunda.

Akibat terburuk dari menunda pekerjaan ialah kita terpaksa mengerjakannya pada menit-menit terakhir menjelang tenggat tiba. Kita lalu terbiasa menjadi seorang “last minuter”, orang yang gemar menyerahkan pekerjaan pada menit terakhir. Sudah bisa diduga, karena kita mengerjakannya pada menit-menit terakhir, tentu hasilnya tidak maksimal. Terburu-buru.

Ada kebiasaan lain yang dalam bahasa Inggris disebut “procrastination”, yaitu mengerjakan hal yang kurang perlu, sementara yang mestinya perlu dikerjakan diabaikan. Ini juga penyakit yang saya yakin pernah menghinggapi siapapun.

Saya biasa mengalami hal ini jika menjelang ujian sekolah dulu. Saat ujian menjelang tiba, saya tiba-tiba rajin membaca buku-buku yang bukan merupakan pelajaran wajib yang akan diujikan di kelas. Sementara pelajaran yang mestinya akan diujikan, saya abaikan. Itulah yang disebut “procrastination.” Padahal, di hari-hari normal saya tak terlalu tertarik membaca buku-buku non-pelajaran itu.

Mungkin ada penjelasan yang siftanya psikologis mengenai fenomena menunda pekerjaan dan prokrastinasi ini. Saat suatu pekerjaan dibebankan kepada kita, kita cenderung mengalami semacam tekanan batin. Cara untuk menghindari tekanan itu biasanya dua: cara negatif, yaitu tak mengerjakan kewajiban itu sama sekali, atau menundanya hingga menit-menit terakhir.

Cara kedua adalah menghindar dengan mengerjakan hal-hal lain yang bukan merupakan kewajiban. Itulah yang disebut prokrastinasi. Penghindaran dengan cara mengerjakan pekerjaan lain ini yang bukan merupakan keharusan itu membuat stres yang menekan batin kita agak sedikit berkurang.

Kesemua ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang oleh Syekh Ibn Ataillah disebut sebagai kotoran jiwa. Sesuatu yang kotor tentu harus dihindarkan, bukan dirawat dan diawetkan, dibiasakan.

Pengertian khusus. Nasihat yang diberikan oleh Syekh Ibn Ajibah untuk mengatasi penyakit menunda-nunda pekerjaan ini adalah dengan cara menyadari tentang ketakterdugaaan yang bisa saja hinggap pada umur kita.
Saat kita menunda sebuah kewajiban untuk beribadah kepada Tuhan, adakah jaminan bahwa umur kita akan cukup panjang untuk bisa melaksanakannya pada waktu yang sudah kita rencanakan itu? Jangan-jangan kematian datang kepada kita secara tak terduga-duga.

Dengan menyadari elemen ketakterdugaan dalam hidup ini kita mungkin sedikit merasa lebih ringan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada Tuhan dengan segera, tanpa menunda (“taswif”). Taruhlah anda memiliki umur yang cukup, tetapi tak ada jaminan juga bahwa pada saat kita hendak melaksanakan kewajiban pada waktu tertentu di masa datang, kita tak memiliki kesibukan lain pada waktu itu.

Dengan kata lain, menunda-nunda pekerjaan hanyalah sebentuk kebodohan (“al-humq”) saja.
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari sini? Seorang beriman adalah orang yang memandang “waktu sekarang”, “the present”, sebagai waktu yang sangat berharga. Grab it! Rebutlah waktu itu, jangan biarkan ia berlalu tanpa kita isi dengan pekerjaan yang mestinya kita selesaikan pada saat sekarang juga.

Kita mesti ingat, bahwa umur adalah elemen dalam hidup yang tak bisa diduga. Belum tentu kita memiliki kesempatan yang cukup untuk menunda kewajiban hingga waktu nanti. Boleh jadi, pada saat waktu itu tiba, umur kita telah sampai pada “date of expiry”, kedaluwarsa, alias kita mati. Atau kita memiliki kesibukan yang lain.
Jika kita merasaka tekanan mental karena adanya suatu kewajiban tertentu, cara terbaik untuk menghilangkan tekanan itu bukan dengan cara menghindar atau malah menunda pekerjaan. Tetapi justru dengan cara menyegerakan pekerjaan itu. Sebab, jika kita bisa segera menyelesaikan pekerjaan yang menjadi kewajiban kita, kita akan merasakan “kepuasan mental”, plong![]

________________

KESIMPULAN NGAJI HIKAM #24

1. Kesimpulan Ngaji Hikam #24 malam ini sangat sederhana: jangan tunda pekerjaan. Lakukan pekerjaan sekarang juga. Pekerjaan memang kerap menimbulkan tekanan mental pada diri kita. Cara terbaik menghadapi tekanan itu bukan dengan caar menghindarinya, atau menundanya, tetapi dengan cara mengerjakannya sekarang juga.

Ada kepuasan mental (gratikasi psikologis) yang kita rasakan saat kita menyelesaikan pekerjaan dengan segera tanpa ditunda-tunda.

2. Saya tahu, ini "pitutur" atau nasehat yang mudah diucapkan, tetapi betapa sulit melaksanakannya. Tak ada cara lain untuk mengatasinya kecuali dengan cara membangun "habit" atau kebiasaan baru. Yaitu kebiasaan menyelesaikan tugas sesegera mungkin. Jika kita kerap menunda tugas dan kewajiban, itu akan menjadi kebiasaan yang menahun, dan kita akan sulit terlepas darinya.

Dengan kata lain, tak ada metode yang "cespleng" untuk penyakit mental ini, kecuali dengan melatih diri pelan-pelan, dengan membangun kebiasaan baru. Kebiasaan mengerjakan tugas dengan segera.

Sampai bertemu di Ngaji Hikam #25 besok. Mari kita tutup Ngaji Hikam malam ini dengan bacaan hamdalah.

Wassalam.