NGAJI HIKAM #25

NGAJI HIKAM #25

Bismillahirrahmanirrahim

Mari kita mulai Ngaji Hikam #25 malam ini dengan menghaiahkan fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan sekaligus guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah…
______________________
MENERIMA TAKDIR DENGAN SIKAP JANTAN!

Syekh Ibn Ataillah berkata:

La tathlub minhu an yukhrijaka min halatin li-yasta’milaka fima siwaha. Fa-law aradaka la-s-ta’malaka min ghairi ikhrajin.

Terjemahannya:
Janganlah engkau menuntutTuhan untuk mengeluarkanmu dari keadaan tertentu supaya Dia menempatkanmu dalam keadaan yang lain (yang engkau ingini). Jika Tuhan berkehendak, Dia tentu akan menempatkanmu dalam keadaan itu tanpa engkau minta.

Mari kita ulas kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: pengertian umum dan khusus.
Pengertian umum. Dalam masyarakat Jawa, ada filosofi kehidupan yang sangat menarik, yaitu “nrima ing pandum”, menerima apa yang telah menjadi ketentuan Tuhan untuk kita. Janganlah mengatur-atur Tuhan supaya memenuhi kehendakmu, sebab apa yang engkau alami saat ini adalah “resultante”, karma, hasil dari apa yang engkau kerjakan selama puluhan tahun sebelumnya. Apa yang kita peroleh hari ini “pas”, plek, sesuai dengan apa yang anda kerjakan sebelumnya.

Filosofi Jawa itu kerap disalah-pahami sebagai sikap pasif, menerima keadaan apa adanya, tanpa berusaha untuk mengubahnya. Ini pemahaman yang sama sekali keliru. Filosofi ini, jika dimaknai dengan tepat, mengajarkan kepada kita hal-hal yang positif dalam kehidupan ini.

Pertama, kita diajarkan untuk bersikap realistis, melihat kenyataan seperti apa adanya, tanpa mengutuknya atau mencacinya. Sebab kenyataan yang terjadi pada kita hari ini adalah hasil dan akibat saja dari kegiatan-kegiatan kita sebelumnya. Dengan bersikap realistis seperti itu kita tidak mengalami tekanan mental dalam diri kita.
Kedua, jika kita mau mengubah “pandum”, “share”, bagian, atau takdir kita di masa depan, ya lakukan sesuatu sekarang juga agar ada hasil yang berbeda di masa-masa mendatang. Mengutuki keadaan sekarang ini, bahkan “mengatur-atur” Tuhan untuk membantu kita keluar dari kesulitan dan kemelut yang sekarang ini kita hadapi, tak ada gunanya.

Tentu saja, ini bukan berarti bahwa doa tak ada gunanya. Jelas berbeda antara doa yang tulus dengan berdoa dengan sikap ingin mengatur-atur Tuhan, seolah-olah Tuhan adalah bawahan kita. Doa yang tulus bukan doa yang hendak mengatur-atur Tuhan, tetapi memohon secara tulus sebagai bagian dari sikap pengabdian sebagai hamba kepada Tuannya.

Sikap mental yang sehat dalam hidup ini adalah manakala kita bisa menerima takdir secara jantan, secara tulus, tanpa mengutuki keadaan, apalagi mencerca Tuhan. Mencerca Tuhan karena kegagalan yang kita alami sekarang ini sama saja dengan mengutuki diri sendiri. Alih-alh mengutuki dan mencerca Tuhan atau keadaan, lebih baik kita menerima keadaan itu dengan sikap “legawa”, jantan, seperti seorang kandidat presiden yang dengan “gentle” mengakui kekalahannya, seraya menyusun strategi kemenangan untuk langkah berikutnya.
Jika anda mampu menerima takdir dengan jantan, anda telah menjadi seorang sufi dalam pengertian yang sesungguhnya. Sebab esensi kesufian adalah anda menerima kehendak Tuhan secara sukarela. Melawan kehendak Tuhan, sama saja dengan mengingkari hakikat diri anda sendiri. Sikap semacam itu akan mendatangkan kesengsaraan batin yang luar biasa.

Kedamaian terjadi ketika anda menerima kehendak Tuhan dengan jantan. Dalam bahasa yang populer sekarang ini, filosofi itu bisa diterjemahkan dalam ungkapan yang populer: Be yourself! Jadilah dirimu sendiri. Menjadi diri sendiri adalah mengatur kehendak anda agar selaras dengan kehendak Tuhan, bukan melawannya. Begitu anda melawan kehendak Tuhan, anda akan sengsara seumur hidup.

Pengertian khusus. Kata Syekh Ibn Ajibah, pensyarah atau komentator kitab Hikam: Salah satu etika yang harus dipenuhi oleh seorang yang telah mencapai tahap ma’rifat (pengetahuan tentang rahasia kehidupan/ketuhanan) adalah dia mampu mencukupkan diri pada pengetahuan Tuhan saja, dan melepaskan dari ikatan dengan yang lain.

Jika dia tahu bahwa Tuhan menghendakinya untuk berada pada situasi (khalah) tertentu, maka dia akan menerimanya dengan ikhlas. Dia tak akan menuntut Tuhan untuk mengeluarkannya dari situasi itu ke situasi lain yang menurut anggapannya lebih baik.

Pengetahuan kita sebagai manusia sangat terbatas. Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik pada dirinya sendiri, atau baik dalam jangka panjang. Manusia selalu cenderung mengukur segala sesuatu berdasar pandangan matanya yang sangat terbatas. Sebab begitulah "natuur" atau watak manusia.
Salah satu pengertian yang pernah diberikan oleh Tuhan kepada Nabi Daud adalah berikut ini.
Tuhan berkata kepada Nabi Daud: "Wahai Daud, engkau menghendaki sesuatu. Tetapi Aku juga menghendaki sesuatu. Tak ada sesuatu yang terjadi kecuali sesuai dengan apa yang Aku kehendaki.

"Jika segala sesuatu engkau serahkan sesuai dengan kehendak-Ku, engkau akan mencapai apa yang engkau kehendaki. Jika engkau membandel dan tak mau menyerahkan diri sesuai dengan kehendak-Ku, engkau akan membuat dirimu sendiri sengsara, sementara segala sesuatu pada akhirnya akan terjadi sesuai dengan kehendak-Ku."

Dengan kata lain, jika kita melawan kehendak Tuhan, kita akan sengsara sendiri. Kehendak Tuhan tetap akan berlangsung, baik anda suka atau tidak.

Apa yang bisa kita petik sebagai pelajaran dari kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini? Ada satu hal penting yang patut kita pelajari di sini: Kita harus mampu menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Begitu kita mencoba membandel, dan melawan kehendalk Tuhan, kita akan sengsara sendiri. Kita akan mengalami penderitaan batin.

Jika kehendak Tuhan menuntut anda menjadi seorang pengusaha, maka ikutilah kehendak-Nyaitu. Ikutilah takdirmu itu dengan sukarela, ikhlas, dan sungguh-sungguh. Jangan anda membangkang dengan mencoba menjadi “diri yang lain”, misalnya dengan ngotot menjadi seorang pengarang, atau dosen, atau birokrat, atau rohaniawan.

Sebaliknya, jika kehendak Tuhan menempatkan anda pada kedudukan sebagai seorang intelektual, rohaniawan, peneliti, jangan ingkari kehendak-Nya itu, dengan menjalani hal lain yang tak sesuai dengan “diri” anda yang asli.
Kebahagiaan hanya bisa anda capai jika anda mengikuti kehendak Tuhan. Artinya, ketika anda menjadi diri anda sendiri, bukan menjadi diri orang lain.[]
_________________

KESIMPULAN NGAJI HIKAM #25

1. Sumber kebahagiaan dalam hidup antara lain berasal dari sikap mau menerima takdir Tuhan dengan "legawa", pasrah. Tetapi ini bukan pasrah-pasif, tetapi pasrah-realistis. Maksudnya ialah pasrah alam pengertian kita mengalami apa yang kita alami sekarang ini sebagai hasil dan akibat dari pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan sebelumnya.

2. Menerima takdir bisa kita maknai denga ungkapan populer: Be yourself! Jadilah dirimu sendiri. Jika Tuhan menempatkan kamu dan menakdirkanmu sebagai seorang atlik, jalanilah takdir itu degan sungguh-sungguh. Jangan mengeluh. Jangan iri pada takdir dan "posisi" orang lain. Belum tentu kalau anda yang ditakdirkan menjadi seorang atlit akan bahagia jika anda menjadi "diri" yang lain, misalnya menjadi pengusaha. Walaupun, di permukaan, menjadi pengusaha tampak enak.

Orang akan tenang, bahagia, tidak resah jika bisa berdamai dengan diri sendiri. Tanda bahwa kita bisa berdamai dengan diri sendiri adalah manakala kita bisa menerima takdir Tuhan untuk diri kita.

3. Tak ada yang bisa mengetahui takdir Tuhan untuk diri kita kecuali kita sendiri. Kita akan tahu takdir Tuhan setelah mengalami kehidupan kita sendiri, mencobai sejumlah hal, coba-gagal-coba-gagal, sampai kita paham bahwa takdir kita ini atau itu.

Ilmu yang "diwedarkan" oleh Syekh Ibn Ataillah dalam kitab Kitab Hikam ini sejatinya adalah "ngelmu urip", "the science of life", ilmu kehidupan, ilmu rasa. Kita bisa memahami ungkapan-ungkapan Syekh Ibn Ataillah setelah kita menjalani kehidupan dan merasakannya.

Semoga Tuhan memberikan kita pengetahuan dan pemahaman mengenai takdir kita masing-masing, dan mampu menjalaninya dengan tulus, ikhlas, dan jantan.

Sampai bertemu di Ngaji Hikam #26 minggu depan. Mari kita tutup Ngaji Hikam ini dengan bacaan alhamdulillah.

Wassalam.