NGAJI HIKAM #26

NGAJI HIKAM #26

Bismillahirrahmanirrahim

Mari kita mulai Ngaji Hikam #26 dengan menghadiahkan Fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan sekaligus guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah.
_____________________
TUJUAN AKHIR KITA: MENJADI INSAN KAMIL, MANUSIA YANG SEMPURNA, “UBERMENSCH”

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ma aradat himmatu salikin an taqifa ‘indama kusyifa laha illa wa nadathu hawatif al-haqiqati: “Alladzi tathlubu amamaka!” Wa la-tabarrajat dzawahir al-maknunati illa wa nadathu haqa’iquha: “Innama nahnu fitnatun fa-la takfur!”

Terjemahan:
Tak seorang “salik” pun (orang yang melakukan perjalanan menuju Tuhan) yang merasa puas dengan pemahaman tertentu yang disingkapkan kepadanya, kecuali pada momen seperti itu akan ada kebenaran yang memanggil-manggil: “Jangan berhenti, yang engkau cari sudah ada di depanmu!” Tak ada rahasia Tuhan yang tersingkap kepada seseorang kecuali ada suara kesejatian yang juga akan memanggil-manggil: “Aku ini hanyalah ujian, jangan terkecoh!”

Mari kita bahas kebijaksanaan Syekh Ibn Athaillah yang sangat mendalam maknanya ini dengan dua pendekatan dan pengertian: pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Kita seringkali merasa puas dengan kesuksesan-kesuksesan kecil yang kita capai, lalu mengabakan kemungkinan untuk meraih kesuksesan berikutnya yang lebih besar. Manusia memang memiliki watak yang khas, yaitu puas dengan “kenikmatan jangka pendek”, dengan “instant gratification”.

Ini seperti keadaan yang seringkali dialami oleh para penulis. Demi mendapatkan uang yang cepat, seorang penulis kerap menjual karyanya secara “putus”. Padahal, jika menjualnya dengan sistem “royalti”, dia akan mendapatkan “pahala” atau honorarium dalam jangka panjang secara terus-menerus.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering mengalami sendiri atau melihat orang lain yang terjebak pada kepuasan jangka pendek, kepada keberhasilan yang ada sekarang, lalu lupa untuk berusaha lebih keras lagi, sehingga bisa meraih kesuksesan yang lebih besar lagi di masa depan. Kesuksesan kadang bisa menjadi “hijab” atau penghalang untuk meraih kesuksesan berikutnya yang lebih besar.

Meminjam bahasa Syekh Ibn Ataillah yang diilhami oleh sebuah ayat dalam Quran (QS 2:102): Aku ini hanyalah fitnah, ujian, janganlah terkecoh. Sebuah keberhasilan kerap merupakan “fitnah” atau ujian. Karena itu kita tak boleh terkecoh dengan keberhasilan pada tahap tertentu.

Tetapi, jika kita mau mendengarkan suara hati kecil kita, suara Tuhan yang ada dalam diri kita, setiap kita merasa puas dengan pencapaian tertentu, biasanya ada suara dalam diri kita yang mengatakan, “Ayo, bekerja lebih keras lagi, sebab di depanmu ada kesuksesan yang lebih besar. Jangan berhenti!” Orang yang malas, sudah pasti tak akan mendengar suara ini. Dia akan lebih memilih berhenti, menikmati keberhasilan yang ada sekarang, dan tak berusaha lebih jauh lagi.

Jika dipahami secara dangkal, ajaran Ibn Ataillah ini seperti mengajarkan kita untuk “greedy”, rakus, mau lebih, tak puas dengan apa yang ada, “kemrungsung”. Ini jelas tidak benar. Kita harus bisa membedakan mana wilayah “nrima”, menerima apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, dan mana wilayah “ikhtiar” atau usaha.

Sejauh menyangkut takdir/ketentuan Tuhan, kita memakai filosofi “tulus menerima”, seperti dijarkan oleh Ibn Ataillah dalam bagian sebelumnya. Sikap ini harus kita miliki agar kita terhindar dari penyakit mental karena depresi atau tekanan kejiwaan yang membuat kita sengsara.

Tetapi pada wilayah usaha, ikhtiar, “struggle”, kita diajarkan filosofi yang lain: kita harus bekerja keras, tidak mudah puas dengan keberhasilan kecil, sementara kita punya potensi lebih untuk meraih keberhasilan yang juah lebih “gede”. Jika kita berhenti dan puas dengan kesuksesan kecil, itu sama saja dengan menyia-nyiakan “takdir”, mengabaikan potensi yang ada pada diri kita untuk mencapai kelas yang lebih tinggi lagi.

Keadaan yang sama juga bisa terjadi pada seorang “salik”, orang yang menempuh “spiritual journey”, perjalanan ketuhanan menuju kepada Sang Hakikat. Seorang salik kerap merasa puas dengan “ahwal”, keadaan spiritual, dan “maqam”, atau level spiritual tertentu, sehingga lupa untuk berjalan terus guna meraih ahwal dan maqam berikutnya.

Pada momen “kemalasan” seperti itu, biasanya ada suara kebenaran, atau “hatif”, yang memanggil-manggil dalam diri orang bersangkutan, “Jangan berhenti, sebab apa yang engkau cari sudah dekat, tinggal beberapa langkah lagi.” Jika orang itu jujur dan mau mendengarkan suara hati itu, pasti ia akan tergerak untuk berusaha dan berjalan lebih jauh lagi untuk mencapai maqam spiritual yang lebih tinggi.

Apa yang dikatakan oleh Syekh Ibn Ataillah ini, sebetulnya, berlaku bukan saja dalam konteks “suluk” atau perjalanan spiritual, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam konteks profesi dan pekerjaan. Taruhlah anda seorang sutradara yang sedang mengerjakan film. Anda, karena kerja keras anda bersama seluruh crew yang lain, merasa puas dengan film itu.

Tetapi, jika anda jujur pada diri sendiri, anda mungkin akan mendengar suara dalam diri anda, “Your work is great. But you could have done better than this, if you want.” Kamu memang telah membuat film yang bagus. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa bekerja lebih keras lagi dan membikin film itu lebih baik lagi dari yang ada sekarang.

Pada setiap artis atau kreator, pasti ada momen-momen seperti ini: momen ketika kita merasa bahwa apa yang kita kerjakan sebetulnya bisa lebih baik lagi. Tetapi karena malas, dan puas hanya dengan keberhasilan kecil, kita akhirnya berhenti dan tak mau bekerja lebih keras lagi.

Akhirnya, kita menyesal di kemudian hari, dan kelak berbisik pada diri sendiri, “Andai saya dulu mau bekerja sedikit lebih keras lagi, mungkin saya akan mencapai lebih dari apa yang ada sekarang.”
Pengertian khusus. Dalam dunia sufi, dikenal suatu pengalaman spiritual yang disebut “fana’” atau lebur dan menghilang dalam samudera ketuhanan. Ini tak bisa diketahui kecuali oleh mereka yang pernah mengalaminya.

Ada tiga jenis fana’ atau penghabluran. Fana’ dalam af’al atau tindakan Tuhan. Fana’ dalam sifat-sifat dan asma/nama Tuhan. Dan, terakhir, fana’ dalam dzat atau esensi Tuhan.
Ketika kita “lebur”, hanyut dalam tindakan Tuhan, kita akan merasakan kenikmatan. Segala kejadian dan peristiwa di dunia ini kita hayati sebagai tindakan atau “af’al” Tuhan. Tak ada tindakan di dunia ini yang tak ada Tuhan di baliknya. Walaupun itu tindakan kejahatan. Saat kita sudah bisa menghayati pengalaman “hanyut” semacam ini, kita akan mendapatkan “spiritual gratification”, kenikmatan dan kepuasan spiritual yang luar biasa.
Tetapi, saat mengalami kenikamatan itu, kita akan dipanggil oleh “suara gaib” yang ada dalam diri kita, “Jangan puas dengan pengalaman itu, sebab masih ada kelas lebih lanjut yang lebih tinggi. Jangan berhenti di sana, sebab yang kau nikmati itu hanya fitnah belaka!” Jika seseorang mau mendengarkan panggilan gaib ini, dia akan berusaha lebih keras lagi, tidak berhenti. Dia akan mencoba meraih fana’ berikutnya: yaitu hanyut dalam nama dan sifat Tuhan.

Tuhan memiliki nama dan sifat yang tak terhingga jumlahnya. Hanya seorang yang ‘arif dan mengerti rahasia ketuhanan yang mengerti sifat dan nama Tuhan dengan sesunguhnya. Memang ada sembilan puluh nama Tuhan yang disebutkan dalam Quran. Tetapi itu hanyalah contoh saja.

Nama dan sifat Tuhan jumlahnya tak terbatas, seperti doa Nabi Muhammad: “la uhsi tsana’an ‘alaika, anta kama atsnaita ‘ala nafsika”. Aku (maksudnya Nabi) tak bisa menghitung seluruh sifat baik yang layak untukMu, Tuhan. Sebab Engkaulah yang lebih tahu sifat-sifat baikMu. Engkau adalah seperti sifat-sifat yang Engkau nisbahkan pada diriMu.

Seseorang yang menyelam dan tenggelam dalam rahasia sifat dan nama Tuhan, dia akan mendapati suatu pengalaman spiritual yang lebih tinggi dari fana’ sebelumnya. Tetapi, jika ia puas di sana, dia bisa saja berhenti. Dan persis saat berhenti itu, dia terhalang untuk mencapai kenikmatan spitual berikutnya yang akan ia raih jika ia mampu hanyut dalam dzat atau esensi Tuhan. Dengan kata lain, jika dia bisa hanyut dan “menjadi” Tuhan itu sendiri.

Tujuan tertinggi perjalanan mistik adalah bagaimana manusia bisa “menjadi” Tuhan. Kata “menjadi” sengaja saya taruh di antara dua tanda kutip, karena ini hanya sekedar bahasa manusia saja. Pengertiannya tak bisa kita pahami secara harafiah. Hanyut dalam diri Tuhan, dalam dzat Tuhan, “fana’ fi al-dzat”, pada dasarnya adalah “menjadi Tuhan” itu sendiri.

Apa yang bisa kita petik dari kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini?
Manusia memiliki potensi yang luar biasa menakjubkan, sebab dalam dirinya ada elemen ketuhanan, ada anasir-anasir ilahiah. Karena itu, manusia jangan cepat puas diri. Sikap cepat puas diri adalah sifat Setan dan Iblis.

Manusia harus terus berusaha agar potensi-potensi ilahiah yang ada dalam dirinya keluar, terealisasi, sehingga dia menjadi Insan Kamil, manusia yang sempurna!

Atau, meminjam istilah filosof Jerman Nietzsche: Ubermensch.