NGAJI HIKAM #31

NGAJI HIKAM #31

Bismillahirrahmanirrahim
Mari kita mulai Ngaji Hikam #31 dengan menghadiahkan Fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah.
_____________________
IKHTIAR SANGAT PERLU, TETAPI JANGAN TERALU JUMAWA DENGAN USAHA DIRI SENDIRI
Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ma tawaqqafa mathlabun anta thalibuhu bi-rabbika, wa-la tayassara mathlabun anta thalibuhu bi-nafsika.

Terjemahan:

Suatu tujuan yang engkau perjuangkan atas nama Tuhan, tak akan menjadi sulit. Sementara tak ada pekerjaan yang engkau kerjakan dengan mengandalkan dirimu sendiri yang akan menjadi mudah.
Mari kita pahami kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: umum dan khusus.
Pengertian umum. Apa yang dikatakan oleh Syekh Ibn Ataillah di sini menegaskan pengertian-pengertian yang sudah pernah beliau bahas dalam bagian sebelumnya. Intinya: seorang hamba yang beriman sudah selayaknya melakukan semua pekerjaan bukan dengan mengandalkan sepenuhnya hal-hal lain di luar Tuhan. Sebab, mengandalkan diri pada orang lain akan membuat seseorang tergantung, “dependent”, tidak mandiri.

Sebaliknya, menggantungkan diri pada Tuhan akan membuat seseorang memiliki semangat merdeka, mandiri, tidak disetir oleh orang lain.
Karena itu, setiap pekerjaan di mana gantungan utama kita hanyalah Tuhan, ia akan menjadi mudah, meskipun banyak tantangan yang besar di dalamnya. Sebab, pekerjaan yang dilakukan murni karena Tuhan adalah pekerjaan di mana seseorang di dalamnya mendedikasikan diri penuh, berkomitmen total, tanpa pamrih-pamrih sekunder yang bisa mengganggu.

Sementara pekerjaan yang dilakukan dengan pamrih tertentu, biasanya seseorang akan mengalami kekenduran mental dan semangat untuk melakukannya saat pamrih atau iming-iming itu tak ada atau hilang. Jika semangat kendur, dengan sendirinya dorongan dari dalam diri kita untuk mengerjakannya juga berkurang. Akibatnya sudah bisa ditebak: orang itu melakukan pekerjaan tersebut dengan asal-asalan, dan dengan demikian kualitasnya pun tidaklah maksimal.

Nasihat Syekh Ibn Ataillah ini jika dipahami dengan tidak tepat bisa membuat seseorang malas dan tak mau mengerjakan apapun. Larangan mengandalkan pada usaha diri sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ibn Ataillah di atas, maksudnya bukan mencegah kita untuk melakukan usaha dan ikhtiar dengan kekuatan diri sendiri. Yang dimaksud ialah: jangan sampai kita bersikap jumawa dan sombong seolah-olah hasil usaha yang kita capai sepenuhnya berada di bawah kontrol kita, sepenuhnya berkat usaha-usaha kita sendiri.

Sikap “arogansi” semacam ini yang hendak dianjurkan oleh Ibn Ataillah agar kita hindari. Sebab setiap bentuk kesombongan adalah sikap mental yang korosif, yang bisa mengeroposkan rohani. Sikap yang sehat adalah sikap ringan: yaitu berusaha, bekerja, berikhtiar, tetapi ikhtiar kita lakukan bukan dengan perasaan tergantung pada orang lain, juga bukan dengan perasaan “sombong” bahwa usaha kita menjamin hasil secara pasti.

Sikap mental akhir yang dianjurkan melalui ajaran Syekh Ibn Ataillah ini ialah: terus bekerja, berusaha, tetapi dengan sikap rendah hati. Sikap rendah hati bisa diterjemahkan sebagai sikap realistis. Apa yang dimaksud dengan “realistis” di sini ialah sikap menerima kenyataan sebagaimana apa adanya. Dalam kenyataan, memang banyak faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan kita, dan faktor-faktor itu ada di luar kontrol kita.

Manakala kita berhasil, atau bahkan gagal, itu bukan semata-mata karena usaha kita, sebab ada hal-hal di luar usaha kita, di luar kontrol kita yang juga menentukan hasil akhir dari ikhtiar kita itu. Karena itu, keberhasilan usaha kita biasanya disebabkan oleh faktor yang kompleks, bukan semata-mata karena usaha kita sendiri. Ada faktor lingkungan yang begitu rumit dan komplek. Kompleksitas itu dalam bahasa agama disebut TUHAN. Sebab Tuhan memang Yang Maha Kompleks, Maha Rumit!

Pengertian khusus. Tanda-tanda bahwa kita mengerjakan sesuatu dengan mengandalkan pada Tuhan (al-thalabu bi ‘l-Lah), bukan mengandalkan diri sendiri (al-thalab bi al-nafs), adalah berikut ini. Jika Anda mengerjakan sesuatu dengan tujuan Tuhan semata, tandanya ialah Anda tidak “attached” atau terikat kepada pekerjaan dan sesuatu itu, sehingga Anda tergantung padanya.

Sebagaimana diajarkan dalam Buddhisme, setiap bentuk “attachment” atau ikatan adalah sumber “dukkha” atau kesengsaraan batin. Jika Anda mau lepas dari kesengsaraan, putuskan ikatan Anda dengan pekerjaan, dengan hal-hal yang selain Tuhan. Anda boleh melakukannya, tetapi Anda tidak terikat secara obsesif dengannya.
Sementara tanda-tanda seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan mengandalkan pada dirinya sendiri adalah: dia “kemrungsung” atau begitu ambisius mengejarnya, terikat padanya, sehingga akhirnya dia menderita kesengsaraan batin karena keterikatan itu.

Sabda Nabi kepada salah seorang sahabatnya, yaitu Suwaid ibn Ghaflah: La tathlub al-imarata, fa-innaka in thalabtaha wukkilta ilaiha; wa-in atatka min ghairi mas’alatin, u’inta ‘alaiha. Artinya: Janganlah engkau memburu kekuasaan. Jika engkau memburunya, boleh jadi engkau akan mendapatkannya, tetapi engkau akan “diserahkan” kepada kekuasaan itu (engkau menjadi hamba kekuasaan). Tetapi jika kekuasaan itu datang tanpa engkau buru secara ambisius, engkau justru akan ditolong untuk meraihnya dan menjalankannya.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari sini? Sebagaimana ditekankan berkali-kali oleh Syekh Ibn Ataillah, kita perlu menanamkan dalam diri kita sikap rendah hati, tidak sombong mengandalkan pada kekuatan sendiri. Cara untuk “menetralisir” kesombongan ini adalah dengan menyandarkan diri pada Tuhan.

Konsep Tuhan dalam agama memang berfungsi, antara lain, agar manusia bisa melakukan netralisasi atas sikap-sikap “vanity”, sikap burung merak, sikap sombong dan sok merasa kuasa dan bisa segala-galanya yang biasa menghinggapi manusia. Sikap-sikap ini, cepat atau lambat, akan destruktif, menghancurkan rohani manusia, menjauhkannya dari kehidupan mental dan rohani yang sehat bahagia.

Oleh : Mbah Panglima Jampari