NGAJI HIKAM #32


"AWAL YANG BAIK MENENTUKAN HASIL AKHIR YANG BAIK"

Bismillahirrahmanirrahim

Mari kita mulai Ngaji Hikam #32 dengan menghadiahkan Fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah.
________________________

AWAL YANG BAIK MENENTUKAN HASIL AKHIR YANG BAIK

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Min ‘alamat al-najihi fi al-nihayat al-ruju’ ila ‘l-Lahi fi al-bidayat. Man asyraqat bidayatuhu asyraqat nihayatuhu.
Terjemahan:

Tanda-tanda seseorang yang akan berhasil di ujung perjalanan ialah: dia bersandar dan kembali kepada Tuhan pada permulaan pekerjaan. Barangsiapa yang awal perjalanannya terang-benderang, maka akhir perjalanannya juga akan demikian.

Mari kita telaah kebijaksanaan Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: umum dan khusus.
Pengertian umum. Secara sederhana, kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini bisa kita pahami dengan ungkapan yang sudah sering kita kenal selama ini: permulaan yang baik menentukan ujung sebuah perjalanan. Kata pepatah Arab: kama takun al-bidayah, takun al-nihayah. Bagaimana permulaan, itulah yang akan menentukan sebuah akhir. Awal yang baik akan menentukan akhir yang baik juga. Begitu juga sebaliknya.

Jika sejak awal seseorang sudah benar menata hati di niatnya, yaitu melakukan sesuatu bukan untuk pamrih-pamrih yang sifatnya sementara saja, melainkan hanya untuk Tuhan semata, maka itu menjadi pertanda keberhasilan pekerjaannya.

Dalam Islam, kedudukan “niat” sangat penting sekali. Niat bukan sekedar “krentek” atau gerakan hati yang menghendaki sesuatu. Bagi seorang arsitek, “niat” adalah semacam gambar sebuah bangunan, semacam “blue print”, rencana awal yang menentukan seluruh pekerjaan pada tahap berikut.

Karena itu, ada kaidah fikih yang berbunyi: niyyat al-mu’min khairun min ‘amalihi. Niat seorang beriman lebih baik dari pada pekerjaannya itu sendiri. Ini buka berarti bahwa pekerjaan dan eksekusi atas niat tidak penting. Bukan. Melainkan: tanpa niat yang benar, pekerjaan bisa berlangsung tidak karuan, dan bahkan bisa destruktif, baik bagi pelaku pekerjaan itu atau orang lain yang ada di sekitar dia.
Jika niat sudah bisa ditata dengan benar, ini sama saja dengan seorang insinyur sipil yang membangun suatu bangunan dengan gambar yang jelas dan detil. Separoh lebih dari kebarhasilan pekerjaannya ditentukan oleh “niat” alias gambar yang benar.

Karena itulah, awal yang baik, menentukan akhir. Jika kita mulai segala sesuatu dengan niat untuk mencari kerelaan Tuhan, bukan pamrih-pamrih yang lain, maka kita sudah menjamin keberhasilan bagi pekerjaan kita.
Pengertian khusus. Bagi seorang yang hendak masuk ke dalam kehidupan sufi, hal yang paling penting untuk ditata terlebih dahulu adalah niat. Jika seseorang masuk dan menjalani kehidupan sufi untuk, misalnya, mencari “efek sosial”, agar dipandang “keren” oleh orang-orang di sekitarnya (sebab, sekarang ini, di kalangan tertentu, menjadi “sufi” adalah semacam “mode” atau “fashion” yang dipandang keren!), maka ia sudah mencicil kegagalannya sendiri sejak awal.

Jika seseorang menjalani kehidupan sufi agar meraih pengaruh sosial-politik yang luas (sebab, sekarang, menjadi “tokoh sufi” bisa memiliki pengaruh politik yang luas!), maka dia mungkin saja akan memperoleh yang ia tuju itu. Tetapi perkara apakah dia akan mencapai pengetahuan tentang rahasia ketuhanan, ma’rifat yang sesungguya, tentu perkara lain. Jika niatnya adalah untuk tujuan duniawi, maka dia telah menutup jalan menuju kepada keberhasilan, “wusul”, sampai kepada Tuhan.

Jika engkau berniat melakukan sesuatu, maka sebaiknya kita menata agar kehendak kita berjalan seiring dengan kehendak Tuhan. Jika kita mempu menata niat sepeti ini, memasang niat agar lusus seiring dengan kehendak Tuhan, maka kita akan merasa ringan, dan tidak menderita tekanan karena risau akan berhasil tidaknya pekerjaan kita. Apapun yang terjadi, akan kita terima sebagai bagian dari kehendak kita.

Sekali lagi, kita janglah memaknai ini sebagai sikap pasif menerima saja ketentuan Tuhan. Sebagaimana sudah kita ulas dalam bagian yang lalu: ikhtiar manusia tetaplah tak terhindarkan. Bahkan suatu keharusan. Tetapi seraya kita berikhitiar, kita harus menata niat agar ikhtiar kita itu semata-mata kita sandarkan hasil akhirnya pada Tuhan semata.

Pelajaran yang bisa kita petik dari sini: Kita harus bisa membaca “kehendak alam”, ketentuan Tuhan, dan bekerja menyesuaikan diri dengan itu. Jika sejak awal kita sudah bisa menata hati kita seperti ini, kita akan berjalan dengan ringan. Kita bekerja keras, tetapi tanpa beban yang berlebihan mengenai hasil akhir. Sebab kerapkali Tuhan mengajari kita lewat proses, bukan lewat hasil akhir.

KESIMPULAN

1. Seringkali niat yang benar dan tepat jauh lebih penting dari pekerjaan itu sendiri. Tentu, ini bukan berarti bahwa mengerjakan niat tidak penting. Tetapi martabat niat lebih tinggi daripada pekerjaan. Sebab dengan niat yang salah, pekerjaan bisa berdampak destruktif. Jika sebuah pekerjaan berdampak destruktif, lebih baik tak dikerjakan ketimbang dieksekusi.

2. Karena itu, seperti kata Syekh Ibn Ataillah, awal yang baik, yaitu awal yang diniatkan hanya untuk Tuhan saja, akan menjamin keberhasilan pekerjaan kita. Walaupun, misalnya, pekerjaan kita secara lahiriah tidak mencapai target yang kita rencanakan dari awal, tetapi jika sejak awal niat kita benar, maka kita tetap berhasil. Sekurang-kurangnya kita berhasil menjaga diri untuk tidak terjatuh pada tekanan batin yang maha hebat karena kegagalan memukul kita secara mental.

3. Menata niat dengan benar tampaknya mudah dikatakan. Tetapi ini bukan sesuatu yang gampang seperti penampakannya di permukaan. Menata niat dengan benar mencerminkan sikap hidup seseorang. Niat yang baik juga mencerminkan watak orang bersangkutan. Jika seseorang dalam seluruh hidupnya terbiasa dengan “sinister intent”, dengan niat-niat jahat terhadap orang lain, maka akan sulit bagi orang seperti ini untuk memulai “habit” atau kebiasaan baru, yaitu “positive thinking”.

Kita mungkin pernah dengar ungkapan, “orang itu bawaannya jahat melulu.” Ungkapan ini melambangkan sikap buruk yang sudah mengakar pada seseorang sehingga menjadi sebuah “bawaan” atau natuur, watak.
Menata niat yang baik, denga demikian, memulai suatu kebiasaan baru yang positif dalam rohani kita sendiri. Ini tidak mudah. Membutuhkan latihan yang lama, seperti latihan seorang atlet atletik atau atlet-atlet yang lain. Seorang pemain ateltik memiliki kelenturan dan kegesitan tubuh bukan hasil dari pekerjaan sehari-dua hari, tetapi melalui latihan yang lama sekali. Latihan itu membentuk semacam “niat yang otomatis” dalam tubuh atlet yang bersangkutan.

Begitu juga, kita perlu membangun “niat yang otomatis” dalam mental dan rohani kita, sehingga kita akan dengan sendirinya bisa memiliki niat yang positif dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan, karena ia telah menjadi kebiasaan yang mengakar dalam diri kita.

Allahumma, semoga kita bisa menata niat kita dengan benar dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan, dan semoga kita terhindar dari niat-niat buruk yang akan merusak diri kita dan orang lain. Amin.
Sampai bertemu di Ngaji Hikam #33 besok. Mari kita tutup pengajian ini dengan hamdalah.