NGAJI HIKAM #33

NGAJI HIKAM #33

"TINDAKAN KITA ADALAH JENDELA HATI"

Bismillahirrahmanirrahim

Mari kita mulai Ngaji Hikam #33 ini dengan menghadiakan Fatehah kepada Syekh Ibn Ataillah (qs), kepada ayah dan guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.
Mari kita mulai. Bismillah.
______________________

TINDAKAN KITA ADALAH JENDELA HATI

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ma ustudi’a min ghaib al-sara’ir dzahara fi syahadat al-zawahir.

Terjemahan:
Sesuatu yang tersimpan dalam kegaiban rahasia batin akan tampak keluar dalam tindakan dan sikap lahir.

Mari kita telaah kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: umum dan khusus.

Pengertian umum. Secara harafiah, makna ungkapan Syekh Ibn Ataillah ini adalah sebagai berikut: rahasia-rahasia batin yang dititipkan dan disimpan oleh Tuhan dalam hati kita tak akan terus bisa tersimpan di sana. Dia akan keluar, dan nampak dalam tindakan lahir kita. Sifat-sifat mental yang ada dalam diri kita adalah ibarat sebuah rahasia kita. Tetapi ia tak bisa kita rahasiakan, sebab sifat-sifat itu akan muncul keluar, membentuk tindakan sehari-hari kita.

Ketika kita berjumpa denga orang baru yang tak kita kenal sebelumnya, ia seperti sebuah “rahasia” yang penuh misteri yang tak kita ketahui apa sikap, pikiran, dan pendapat-pendapatnya. Pelan-pelan, ketika kita sudah berinteraksi dengan orang itu, bercakap-cakap, berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya, kita mulai tahu siapa sesungguhnya dia. Orang yang semula merupakan rahasia dan misteri bagi kita, akhirnya terungkap melalui tindakan, ucapan, pendapat dan sikap yang ia tunjukkan kepada kita dan orang lain.

Sebab segala rahasia yang ada dalam batin kita tak bisa terus bersemayan di sana selamanya. Apa yang ada dalam batin kita akan keluar dan muncul, dan bisa dilihati oleh orang lain melalui tindakan-tindakan kita. Karena itu, tindakan orang adalah semacam “jendela” dari mana kita bia melihat isi hati orang.

Apa yang dikemukakan oleh Syekh Ibn Ataillah ini tentu saja merupakan kebijaksanaan mistik, ilmu batin yang ia peroleh berdasarkan pengalaman spiritualnya sebagai seorang sufi. Tetapi, kebijaksanaan ini sebetulnya berlaku untuk konteks kehidupan yang luas. Kita bisa mengalami hal ini dalam peristiwa sehari-hari yang kita alami bersama sahabat kita atau orang-orang lain yang ada di sekitar kita.

Kita bisa menilai watak, isi hati, dan sikap batin orang lain berdasarkan tindakan dia sehari-hari. Karena itu, kadan sulit bagi seseorang menyembunyikan apa yang ada dalam batin dan hatinya, sebab gerak-geriknya dengan cukup baik menceritakan rahasia batinnya. Dalam pepatah Arab dikatakan: lisan al-hal afshahu min lisan al-maqal. Tindakan seseorang lebih jelas mengatakan siapa orang itu daripada kata-katanya. Tindakan berkata lebih keras dari kata-kata.

Jika kita bisa mengetahui rahasia hati seseorang berdasarkan tindakan-tindakannya, begitu juga kita bisa mengerti dan memahami Tuhan Yang Maha Rahasia dan Maha Batin melalui tindakan-tindakan-Nya di dunia ini. Seseorang yang memahami tindakan Tuhan di dunia ini akan mengetahu siapa sejatinya Tuhan itu. Dan siapapun yang memahami Tuhan dengan sesungguhnya, dia dengan sendirinya akan paham juga siapa manusia.

Pengrtian khusus. Di kalangan sufi dikenal dua istilah, yaitu: al-ahwal al-qalbiyyah atau suasana dan sikap kebatinan, dan al-af’al al-qalabiyyah atau tindakan yang muncul dalam badan lahir kita. Ada dua kata yang saling berpasangan, yaitu al-qalb yang artinya hati, dan al-qalab yang artinya adalah wadag atau badan lahir kita. Apa yang ada dalam “qalb”/hati akan tampak keluar dalam “qalab”/badan.

Jika dalam “qalb” kita terdapat sifat-sifat yang terpuji seperti kehalusan budi (adab/tahzib), ketenangan dan ketegaran batin (sukun/tuma’ninah/razanah), kedermawanan dan mudah mengampuni kekeliruan orang lain (badzl dan ‘afw), maka sifat-sifat itu tentu akan muncul ke permukaan dalam “qalab” atau badan kita.
Sebaliknya, jika dalam “qalb” terdapat sifat-sifat buruk dan tercela, seperti kersehahan batin (qalaq), kemarahan (ghadab), kekeras-kepalaan (thaisy), maka sifat-sifat itu juga akan muncul di dalam “qalab” atau tindakan badan kita.

Kata Syekh Ibn Ajibah: Wa kullu in’ain bil-ladzi fihi yarsyahu. Gelas biasanya akan memercikkan apa yang ada di dalamnya. Jika di dalam gelas itu terdapat air, maka ia akan memercikkan air pula. Tak mungkin cangkir yang berisi air bisa memercikkan susu, misalnya. Sebab gelas hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, bukan yang lain.

Dari sini, sebuah pelajaran moral bisa kita peroleh. Yakni: Kita harus terus-menerus berusaha memperbaiki apa yang ada di dalam “qalb”, hati dan rohani. Jika kita melakukan reformasi, islah, atau perbaikan terhadap apa yang ada di dalam hati dan batin, dengan sendirinya tindakan lahiriah kita juga akan ikut menjadi baik.
Tak mungkin kita berharap terjadinya perbaikan atas tindakan seseorang tanpa ada perbaikan terhadap apa yang ada dalam rahasia batin orang itu. Karena itu, pendekatan perubahan sosial dalam pandangan kaum sufi biasanya adalah “mulai dari dirimu sendiri.” Tak ada gunanya kita mengubah struktur, sistem, dan aturan jika batin dan hati orang-orang masih sakit.
Sebab peraturan dan sistem yang baik dan ideal bisa dikorupsi oleh orang-orang yang hati dan batinnya jahat.

KESIMPULAN :

1. Tindakan manusia adalah jendela dari mana kita bisa menengok ke dalam isi hati orang. Tindakan seseorang menandakan sikap dan sifat-sifat yang ada dalam hatinya. Apa yang tersembunyi dalam hati seseorang dalam bentuk sikap hidup akan mencuat keluar dalam bentuk tindkan dalam kehidupan sehari-harinya.

2. Karena itu, tugas seorang beriman (juga yang tak beriman, sebab ini pelajaran yang berlaku universal) adalah: memperbaiki kualitas mental, batin dan rohani kita. Sebab dari sanalah sumber segala tindakan kita.

3. Jika kita mau mengubah masyarakat, ubahlah melalui individu-individu yang ada di dalamnya. Cara terbaik mengubah individu adalah dengan memperbaiki kualitas rohaninya, sikap-sikap dalam hatinya. Inilah pendekatan perubahan sosial menurut pandangan orang-orang tasawwuf.

Allahumma, berilah kami kekuatan untuk terus-menerus memperbaiki sikap-sikap batin kita, dan menanamkan di sana sifat-sifat dan kualitas mental dan rohani yang terpuji.

Sampai bertemu di Ngaji Hikam #34 besok malam.

Mari kita tutup dengan bacaan hamdalah.

Wassalam.