NIAT vs TAKBIROTUL IHROM

NIAT vs TAKBIROTUL IHROM

Saya angkat tema ini, karna banyak yg kurang memahami Niat berbarengan dengan takbirotul ihrom.
Kenapa saya tulis "kurang memahami"?

Karna banyak saya jumpai hanya karna menolak talaffudz niat akhirnya kurang memperhatikan hal yang justru menjadi Rukun sholat, tidak memperhatikan panjang pendeknya bacaan.

Yang perlu diperhatikan dalam Takbirotul ihrom itu, jangan meringkes ( membaca pendek ) Takbir, batasannya bila sampai tidak difahami sebagai takbir, karna saking cepat/ pendek ucapannya.

Sebaliknya, jangan pula terlalu panjang, tapi ambil tengahnya, demikian pemahaman mudah dari perkataan Imam Albajuri RA.

Dijelaskan lebih lengkap oleh Imam Asysyibromalisi, disunnahkan memanjangkan Takbir dengan syarat tidak lebih dari 7 ( tujuh ) alif, kalau sengaja lewat dari 7 alif, maka batal takbirotul ihromnya.

Satu alif itu dikira2 dua harokat.

Jadi bila 7 alif dikira2 14 harokat (hitungan satu harokat itu sama dengan menggerakkan jari telunjuk dari keadaan lurus kebawah, kembali lurus lagi dihitung 1 alif ).

Jadi, gak usah terburu2 saat takbirotul ihrom, karna ucapan takbir oleh mulut diselaraskan dengan niat ( Usholli fardlol maghrib, Isya, Shubuh, Dzuhur, Ashar , dll, tsalatsa, Arba'a, Roklataini, adaa_an/ qodloo_an Lillahi Ta'aala).

قال الباجوري : ويسن ان لايقصر التكببر بحيث لا يفهم ولا يمططه بان يبالغ في مده بل يتوسط
وقال الشبراملسي: ويستحب ان يمد التكبير ويشترط ان لايمد فوق سبع الفات والا بطلت ان علم وتعمد ذالك وتقدر كل الف بحركتين وهو على التقريب ويعتبر ذلك بتحريك الاصابع متوالية مقارنة للنطق بالمد فى التحرم