NUURUL MUSHTHOFA jilid 1 bag 2

Assalamu'alaikum wr wb

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB NUURUL MUSHTHOFA
KARYA HABIB MURTADLO ALKAFF
NUURUL MUSHTHOFA jilid 1

KEMULIAAN NUR MUHAMMAD SAW (Bagian 2)

Kemudian akibat gangguan Iblis terkutuk kepada Ibu Hawwa’, maka Allah SWT menurunkan keduanya di muka bumi ini. Dan dalam jangka waktu yang lama, mereka mengalami berbagai macam kesedihan dan penyesalan yang luar biasa. Berulang kali Nabi Adam AS memohon ampunan dan meratap kepada Allah SWT, namun belum ada jawaban dan tidak diperdulikan sama sekali. Hingga akhirnya Beliau Nabi Adam AS teringat kemuliaan dan keagungan derajat Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Sehingga timbullah harapan Beliau untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dengan berwasilah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan berkat kemuliaan Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi-Nya, maka Allah SWT mengabulkan permohonan ampun Nabi Adam AS dan menerima taubatnya.

Sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Hasaniy dalam kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 1 hal 15 ;

قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص 15
وعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال; قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لما اقترف آدم الخطيئة قال يا رب أسالك بحق محمد صلى الله عليه وسلم إلا ما غفرت لي فقال الله تعالى يا آدم كيف عرفت محمدا ولم أخلقه قال يا رب لأنك لما خلقتني بيدك أي من غير واسطة أم وأب ونفخت في من روحك أي من الروح المبتدأة منك المتشرفة بالإضافة إليك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى إسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله تعالى صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إلي وإذ سألتني بحقه فقد غفرت لك ولولا محمد ما خلقتك . رواه البيهقي في دلائله.

Yang artinya kurang lebih;
“Diriwayatkan dari Sayyidina Umar Ibnul Khaththab Radliyallahu ‘Anhu, bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; Manakala Nabi Adam AS bermunajat kepada Allah SWT memohon ampunan dengan berwasilah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW Beliau berkata; Ya Allah, demi kemuliaan/keagungan derajat Baginda Nabi Muhammad SAW di sisi-Mu limpahkanlah ampunan-Mu kepadaku. Seketika Allah SWT Berfirman; Hai Adam, bagaimana engkau bisa mengenal Nabi Muhammad SAW padahal Aku belum menciptakannya. Nabi Adam AS menjawab; Ya Allah, sesungguhnya Engkau tatkala telah menciptakanku dan memberiku nyawa, aku lihat di sekitar Arasy diliputi kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah. Aku yakin bahwa sesungguhnya Engkau tidak mendampingkan Asma-Mu kecuali kepada makhluk yang paling Engkau cintai. Allah SWT Berfirman; Kamu benar hai Adam. Sungguh dia (Nabi Muhammad SAW) adalah makhluk yang paling Aku cintai. Dan karena kamu telah memohon ampunan kepadaKu dengan berwasilah kepadanya, Maka Aku kabulkan permohonanmu. Dan kalau bukan karena dia maka Aku tidak akan menciptakan kamu”

Dan sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Aalamin hal 217 bahwa; Sesungguhnya Nabi Adam AS mendengar suara dari dalam dahinya seperti suara kicauan burung. Beliau merasa heran dan lantas berkata; “Subhanallah..Maha Suci Allah…sungguh sangat agung sekali kekuasan-Mu..suara apakah ini yang telah Engkau ciptakan berada dalam dahiku ya Allah..?. Seketika Allah SWT menjawab ketakjuban Nabi Adam AS tersebut dengan Firman-Nya;
يا آدم هذا تسبيح خاتم النبيين وسيد ولدك من المرسلين صلى الله عليه وسلم
Yang artinya kurang lebih;
“Hai Adam, (ketahuilah olehmu, sesungguhnya suara tersebut adalah tasbih kekasih-Ku Nabi akhir zaman, yang kelak menjadi junjungan (pimpinan) seluruh umat manusia (keturunanmu). Baginyalah senantiasa Kulimpahkan sholawat dan salam sejahtera dari-Ku..”

Dan sesungguhnya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa terlihat bersinar kemilauan di muka Nabi Adam AS, laksana matahari yang bersinar terang benderang di siang hari. Maka, Allah SWT mengambil sumpah (perjanjian) kepada Nabi Adam AS agar senantiasa menjaga Nur tersebut dengan Berfirman :

يا آدم خذه( يعني النور النبوي) بعهدي وميثاقي على ان لا تودعه إلا في الأصلاب الطاهرة والمحصنات الزاهرة
Yang artinya kurang lebih;
“Hai Adam, bejanjilah (kepada-Ku) untuk senantiasa benar-benar menjaga Nur Nabi Muhammad SAW (yang telah Kuletakkan dalam dirimu). Janganlah sekali-kali kamu letakkan kecuali kepada orang-orang yang suci mulia..”.

Maka Nabi Adam AS menerima dengan senang hati bahkan Beliau sangat bangga untuk melaksanakan tugas tersebut dengan menjaganya dan mewasiatkan amanat tersebut kepada anak cucunya kelak.
Dan sesungguhnya para malaikat senantiasa berbaris rapi di belakang punggung Nabi Adam AS. Beliau heran dengan amalan perbuatan malaikat tersebut, lantas Beliau bertanya kepada Allah SWT; “Ya Allah, kenapa para malaikat selalu berbaris rapi di belakangku…?”. Allah SWT kemudian menjawab dengan Berfirman..: “Hai Adam..ketahuilah olehmu…bahwa para malaikat-Ku tersebut..senantiasa berdiri di belakangmu untuk memandang kepada Nur Kekasih-Ku Nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad

Maka Nabi Adam AS memohon kepada Allah SWT agar diijinkan untuk melihat Nur tersebut. Dan Allah SWT mengabulkannya sehingga Nabi Adam AS bisa melihat keagungan Nur Nabi Muhammad SAW. Maka Beliau Nabi Adam semakin tambah cintanya dan kebanggaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau benar-benar sangat menjaga kemuliaan dan keagungan Nur tersebut. Oleh sebab itulah, setiap beliau hendak berhubungan dengan istrinya (Ibu Hawwa’) maka Beliau bersuci terlebih dahulu dan memakai wewangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa, dengan mengatakan..”Hai istriku Hawwa’..Bersucilah, dan pakailah olehmu wangi-wangian..sesungguhnya sudah dekat saatnya, Nur Nabi Muhammad SAW yang berada dalam diriku akan berpindah dalam dirimu…”

Maka Nabi Adam AS dan Ibunda Hawwa senantiasa menjaga kesucian demi memuliakan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW. Sampai suatu hari Nur Baginda Nabi Muhammad SAW benar-benar telah berpindah dari diri Nabi Adam AS ke dalam diri Ibunda Hawwa’. Sehingga berkat Nur Agung tersebut, Ibunda Hawwa’ semakin tambah kecantikannya setiap hari. Wajahnya semakin bersinar dan berseri-seri.. Sejak saat itulah Nabi Adam AS tidak berani berhubungan dengan Ibu Hawwa’ demi menjaga kesucian dan memuliakan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada dalam dirinya.

Dan para malaikat senantiasa berduyun-duyun turun ke bumi setiap hari semata-mata hanya untuk menghaturkan salam sejahtera dari Allah SWT kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah bersemayam dalam diri Ibunda Hawwa’.. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS.

Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits AS, maka Nabi Adam AS selalu memperhatikan dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.

Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Allah SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyullah Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat kepadanya;

يا بني إن الله أخذ عليك عهدا وميثاقا من أجل هذا النور المستودع في ظهرك ووجهك أن لا تضعه إلا في أطهر نساء العالمين
Yang artinya kurang lebih;
“Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Allah SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.

Dan Nabi Adam AS juga telah mewasiatkan kepada Nabi Syits AS (putranya) agar senantiasa membesarkan kemuliaan dan keagungan Baginda Nabi Muhammad SAW di jiwanya, serta senantiasa menyebut-nyebutnya dengan berdzikir kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Hawi Lil Fatawi Juz 2 hal 174;

قال الإمام جلال الدين عبد الرحمن السيوطي في الحاوي للفتاوي الجزء الثاني ص 174
وقد أخرج ابن عساكر عن كعب الأخبار أن آدم أوصى ابنه شيث فقال كلما ذكرت الله فاذكر إلى جنبه اسم محمد فإني رأيت اسمه مكتوبا على ساق العرش وأنا بين الروح والتين ثم إني طرفت فلم أرى في السماء موضعا إلا رأيت اسم محمد مكتوبا عليه ولم أرى في الجنة قصرا ولا غرفة إلا اسم محمد مكتوبا عليه ولقد رأيت اسم محمد مكتوبا على نحورالحور العين وعلى ورق قصب آجام الجنة وعلى ورق شجرة طوبى وعلى ورق سدرة المنتهى وعلى أطراف الحجب وبين أعين الملائكة فأكثرذكره فإن الملائكة تذكره في كل ساعا تها .
Yang artinya kurang lebih;
“Bahwa sesungguhnya Nabi Adam AS berwasiat kepada putranya (Nabi Syits AS);”(Hai Syits), setiap kamu berdzikir(menyebut) Asma Allah SWT hendaklah kamu sertakan pula berdzikir (menyebut) nama Baginda Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya aku (Nabi Adam AS), telah melihat namanya selalu berdampingan dengan Asma Allah SWT (Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah) tertulis meliputi Arasy’, tertulis di seluruh tempat-tempat di langit, tertulis di gedung-gedung sorga, di kamar-kamar sorga, di leher para bidadari sorga, di seluruh dedaunan pohon-pohon sorga, di seluruh dedaunan pohon Thuba, di seluruh dedaunan pohon Sidratil Muntaha, di seluruh sudut benteng dan di setiap dahi (antara kedua mata) para malaikat.
Maka perbanyakilah selalu berdzikir (menyebut-nyebut) namanya, karena seluruh malaikat di alam malakut senantiasa berdzikir (menyebut-nyebut) namanya”.

Dan sesungguhnya Allah SWT telah mewasiatkan pula kepada Para Nabi & Rasul terutama Para Nabi yang diberikan kitab agar benar-benar beriman dan selalu membesarkan kemuliaan Baginda Nabi SAW di sisi Allah SWT dengan senantiasa berdzikir mengucapkan kalimat Laailaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW. Dan diwajibkan pula untuk mewasiatkan kepada umatnya masing-masing agar sungguh-sungguh beriman, tunduk, patuh dan senantiasa membesarkan kemuliaan Junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW dan menjadi pembela setianya apabila suatu saat bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana yang telah Allah SWT Firmankan dalam Surat Aali Imraan ayat 81;

وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين. (آل عمران 81)
Yang artinya kurang lebih;
“Dan (ingatlah), ketika Allah SWT mengambil perjanjian dari para Nabi; “Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian semua berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian semua seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian semua, niscaya kalian semua akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan senantiasa mengagungkannya”. Allah SWT Berfirman;”Apakah kalian semua mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”. Mereka serentak menjawab; “Kami mengakui”. Allah SWT Berfirman; “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian semua.”. (Q.S. Ali Imraan ayat 81).

Dan disebutkan pula dalam Firman Suci Allah SWT, Surat Ash-Shaff ayat 6;

وإذ قال عيسى بن مريم يا بني إسرائيل إني رسول الله إليكم مصدقا لما بين يدي من التوراة ومبشرا برسول يأتي من بعدي اسمه أحمد) الصف 6)
Yang artinya kurang lebih;
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata; “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT kepada kalian semua, membenarkan kitab(yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad)”.(Q.S. Ash-Shaff ayat 6).

Dan sesungguhnya demi belas kasih sayang Allah SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat luar biasa, sampai-sampai umatnya dimuliakan oleh Allah SWT dan diberi keutamaan-keutamaan yang tidak pernah diberikan oleh Allah SWT kepada umat siapapun pada masa terdahulu, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Kitab-kitab Para Nabi terdahulu.