179.Hukum Memandika Jenazah yang punya penyakit menular

assalamu alaikum
Seorang yang mengindap penyakit menular meninggal dunia dan orang disekitarnya tidak ada yang berani memandikanya karena takut tertular. apakah ketakutan itu bisa dijadikan alasan untuk tidak memandikan mayit?
(pertanyaan dari : Alay Yala) 
Jawab:
waalaikum salam hukum merawat mayyit seperti memandikan , mengkafani,mensholati,menguburkan itu fardhu kifayah dan bila mayyit kena penyakit menular  tidak dapat menggugurkan memandikan dan mengkafani mayyat , bahkan lari untuk tidak memandikannya dan mengkafaninya haram, karena ada riwayat hadist yang melarang untuk lari dari wabah penyakit thaun di daerahnya sedangkan illat keharaman hadist tersebut itu karena orang yang lari tersebut itu mensia-siakan ,atau lari dari tanggung jawab merawat mayyat yang mati akibat terkena wabah tha’un wallahu a’lam
sedangkan sekarang dalam dunia kedokteran ada solusinya yaitu diserahkan atau dibawa kerumah sakit untuk di rawat mayyitnya dengan dimandikan dan dikafani di rumah sakit bisa dibaca disumber ini :  http://news.detik.com/.../latihan-memandikan-jenazah...
 Surabaya - Dengan mimik takut, sejumlah ibu memandikan jenazah yang semasa hidupnya mengidap penyakit menular. Mereka membekali diri dengan topi, plastik, kacamata dan masker. Begitulah suasana simulasi memandikan jenazah yang mengidap penyakit menular di Gedung Akademi Perawat Khodidjah, Jl SMEA, Surabaya, Sabtu (24/03/2007). Jenazah yang dimandikan pun hanya boneka belaka. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan memandikan jenazah penyakit menular ini digelar Muslimat NU dan siswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Setikes) Khodidjah Surabaya. Aksi ini juga melibatkan ahli forensik RSUD dr Soetomo Surabaya, dr Edi Suyanto. "Sebenarnya cara memandikan jenazah itu sama. Yang menjadi perbedaanya adalah alat yang dikenakan oleh orang yang memandikan. Di antaranya topi, plastik, kacamata, masker dan celemek (jas hujan), kaos tangan dan sepatu boat," kata Edi Suyanto. Semua alat-alat tersebut, lanjut dr Edi, berguna untuk orang yang memandikan jenazah korban penyakit menular seperti HIV/Aids agar yang memandikan tidak tertular. Alat-alat tersebut mencegah masuknya cairan-cairan yang bisa menular di antaranya seperti air mani, darah dan air liur. "Alat-alat yang tersebut digunakan tersebut merupakan Universal Precation (UPI) atau kewaspadaan umum sesuai dengan standart yang diberikan dinas kesehatan dan WHO," jelas Edi. Edi menambahkan, seusai jenazah dimandikan seperti biasa, kemudian jenazah tersebut dikafani dan dibungkus dengan plastik. "Tetapi untuk janazah flu burung selain dikafani dan dibungkus plastik juga harus dimasukan dalam peti dan tidak boleh dibuka oleh siapapun," ujarnya. Bagi jenazah korban flu burung, untuk memandikannya sampai saat ini masih wajib dilakukan oleh pihak rumah sakit. Hal ini guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. "Jenazah pasien flu burung tidak boleh dimandikan oleh keluarganya karena hingga saat ini masih belum ditemukan obat untuk mencegah pasien virus AI. Untuk biaya memandikannya, ditanggung oleh pemerintah," tambahnya

tuhfatul muhtaj wa khasiyah asy syarwani juz 3 hal 66 زَمَنَ طَاعُونٍ وَقَدْ يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ حُرْمَةَ الْفِرَارِ مِنْ بَلَدِ الطَّاعُونِ وَالدُّخُولِ إلَيْهِ مَحَلُّهُ إنْ لَمْ يَعُمَّ ذَلِكَ الْإِقْلِيمَ لَكِنَّ الْأَوْجَهَ مَا أَطْلَقُوهُ كَمَا يَشْهَدُ لَهُ تَعْلِيلُ الْأَوَّلِ بِعَدَمِ الْقِيَامِ بِالْبَاقِينَ وَتَجْهِيزِهِمْ
(قَوْلُهُ: وَمَيِّتِ زَمَنِ طَاعُونٍ) أَيْ وَإِنْ لَمْ يُطْعَنْ وَظَاهِرُهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ نَوْعِ الْمَطْعُونِينَ بِأَنْ كَانَ الطَّعْنُ فِي الْأَطْفَالِ أَوْ الْأَرِقَّاءِ وَهُوَ مِنْ غَيْرِهِمْ ع ش عِبَارَةُ شَيْخِنَا أَوْ فِي زَمَنِ الطَّاعُونِ وَلَوْ بِغَيْرِهِ لَكِنْ كَانَ صَابِرًا مُحْتَسِبًا أَوْ بِهِ وَبَعْدَهُ اهـ. (قَوْلُهُ: وَقَدْ يُؤْخَذُ مِنْهُ) أَيْ مِنْ إطْلَاقِ أَنَّ الْمَيِّتَ فِي زَمَنِ الطَّاعُونِ شَهِيدٌ بِدُونِ تَقْيِيدِهِ بِعَدَمِ الْفِرَارِ وَعَدَمِ الدُّخُولِ لَكِنْ لَمْ يَظْهَرْ لِي وَجْهُ الْأَخْذِ (قَوْلُهُ: لَكِنَّ الْأَوْجَهَ مَا أَطْلَقُوهُ إلَخْ) أَيْ فَيَحْرُمُ كُلٌّ مِنْ الْفِرَارِ وَالدُّخُولِ عَمَّ الطَّاعُونُ ذَلِكَ الْإِقْلِيمَ أَوْ لَا (قَوْلُهُ تَعْلِيلُ الْأَوَّلِ) أَيْ حُرْمَةِ الْفِرَارِ وَ (قَوْلُهُ وَالثَّانِي) أَيْ حُرْمَةِ الدُّخُولِ (قَوْلُهُ أَنَّهُ نَوْعٌ إلَخْ) أَيْ الطَّاعُونَ (قَوْلُهُ: إنَّمَا تَقْتَضِي الْكَرَاهَةَ) أَيْ كَرَاهَةَ الدُّخُولِ raudlotut thalibin juz 2 hal 98 فَصْلٌغُسْلُ الْمَيِّتِ فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَكَذَا التَّكْفِينُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَالدَّفْنُ بِالْإِجْمَاعِ.