Empat (4) macam, tempo bacaan yang telah disepakatiahli*

Empat (4) macam, tempo bacaan yang telah disepakatiahli* 
*tajwid, yaitu : * *At-Tartil, *"yaitu "membaca Al-Qur’an dengan tempo lambat/pelan sesuai dengan kaidah- kaidah ilmu tajwid, serta memperhatikan ma’nanya. Tempo bacaan inilah yang paling bagus, karena sesuai dengan perintah Allah dalam Surat Al-Muzammil. At-Tahqiq, yaitu membaca Al-Qur’an dengan tempo lebih lambat dari tartil, tempo bacaan ini lazim di gunakan dalam mengajarkan bacaan Al-Qur’an. 
*At-Tadwir,* yaitu membaca Al-Qur’an dengan tempo pertengahan, yaitu tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat (antara Tartil dan Hadr). Ukuran bacaan yang digunakan dalam tadwir adalah ukuran pertengahan, yaitu jika ada pilihan memanjangkan bacaan boleh 2, 4, atau 6 maka tadwir memilih yang 
Al-Hadr, yaitu membaca Al-Qur’an dengan cepat, namun tetap memeliharahukum-hukum tajwid. Cepat disini biasanya menggunakan ukuran terpendk selagi di bolehkan, seperti membaca mad jaiz dengan 2 harokat. Syekh Al-Ahwazi pernah ditanya tentang bacaan "Al-Hadr", beliau menjawab : "Al-Hadr adalah bacaan yang murah, yang enak kata-katanya, namun tidak membuat orang yang membacanya keluar dari tabiat orang arab pedalaman dan pembicaraan orang-orang yang fashih setelah membaca dengan salah satu riwayat dari salah seorang imam dari beberapa imam qiro'ah berdasarkan ketentuan dalam hukum mad, hamzah, qoth', washol, tasydid, takhfif, imalah, tafkhim, ikhtilas dan ishba' . 
Jika kaedah- kaedah tersebut dilanggar maka ia dianggap orang yang bersalah". Imam Malik Rodhiyallohu 'anhu juga pernah ditanya mengenai membaca dengan cara "al-hadr" ketika membaca al- qur'an, beliau menjawab : "Sebagian orang jika ia membaca dengan cepat itu lebih mudah baginya, sedangkan jika ia membaca dengan tartil malah salah, jadi semua tergantung dari bacaan mana yang dianggap mudah, dan ini adalah hal yang diluaskan (boleh memilih)". Al-Qodhi Abul Walid Ath-Thorthusyi menjelaskan bahwa yang dimaksud dari perkataan Imam Malik tersebut adalah dianjurkan bagi setiap orang untuk membaca al-qur'an sesuai dengan kebiasaannya dan yang dianggap mudah baginya,sebab bila seseorang disuruhuntuk membaca dengan cara lain yang sulit baginya itu malah akan membuatnya berhenti membaca al-qur'an atau memperbanyak dalam membaca al-qur'an. Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa membaca al-qur'an dengan cepat, dalam istilah ilmu tajwid dinamakan "al-hadr", dan bacaan seperti itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan jika memang seseoarang merasa lebih mudah membaca dengan cara tersebut, dengan ketentuan selama orang yang membaca dengan cara tersebut tetap menjaga agar bacaannya tidak menyalahi aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam ilmu tajwid. Wallohu A'lam
Referensi : 1. Al-Amid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 11 2. Fiqhu Qiro'atil Qur'an, Hal : 48-49 3. At-Tamhid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 50 4. Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 15 5. Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 17
Ibarot : Al-Amid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 11 ﺃﻣﺎ ﻣﺮﺍﺗﺐ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻓﺄﺭﺑﻊ، ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺘﺆﺩﺓ ﻭﻃﻤﺄﻧﻴﻨﺔ، ﺑﻘﺼﺪ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻢ ﻣﻊ ﺗﺪﺑﺮ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻰ ﻭﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﻞ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺘﺆﺩﺓ ﻭﻃﻤﺄﻧﻴﻨﺔ، ﻻ ﺑﻘﺼﺪ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻢ ﻣﻊ ﺗﺪﺑﺮ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻰ، ﻭﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺘﺪﻭﻳﺮ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺤﺎﻟﺔ ﻣﺘﻮﺳﻄﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺘﺆﺩﺓ ﻭﺍﻟﺴﺮﻋﺔ ﻣﻊ ﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ. ﺍﻟﺤﺪﺭ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺴﺮﻋﺔ، ﻣﻊ ﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ. ﻭﻫﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﻭﺍﻷﻭﻟﻮﻳﺔ ﺣﺴﺐ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ Fiqhu Qiro'atil Qur'an, Hal : 48-49 ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻓﻰ ﻣﺮﺍﺗﺐ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻟﻠﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻟﺼﻔﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﺳﺒﻖ ﺍﻹﺷﺎﺭﺓ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺛﻼﺙ ﻣﺮﺍﺗﺐ: ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﻞ، ﺍﻟﺘﺪﻭﻳﺮ، ﺍﻟﺤﺪﺭ ﻓﺎﻟﺘﺮﺗﻴﻞ: ﻫﻮ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺘﺆﺩﺓ، ﻭﻃﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ﻣﻊ ﺗﺪﺑﺮ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻰ، ﻭﺗﺠﻮﻳﺪ ﺍﻟﺤﺮﻭﻑ، ﻭﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻟﻮﻗﻮﻑ، ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺮﺗﺒﺔ ﻫﻰ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﻤﺮﺍﺗﺐ ﺍﻟﺜﻼﺙ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﺭﺗﻞ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺗﺮﺗﻴﻠﺎ ﻭﺍﻟﺘﺪﻭﻳﺮ: ﻫﻮ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺤﺎﻟﺔ ﻣﺘﻮﺳﻄﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻻﻃﻤﺌﻨﺎﻥ ﻭﺍﻟﺴﺮﻋﺔ ﻣﻊ ﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺘﺠﻮﻳﺪ. ﻭﻫﻰ ﺗﻠﻰ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﻞ ﻓﻰ ﺍﻷﻓﻀﻠﻴﺔ ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺤﺪﺭ: ﻓﻬﻮ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺴﺮﻋﺔ ﺑﺸﺮﻁ ﺍﻟﻤﺤﺎﻓﻈﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﺃﻳﻀﺎ . ﺫﻛﺮ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﺮﺗﺒﺔ ﺭﺍﺑﻌﺔ ﻭﻫﻰ ﻣﺮﺗﺒﺔ )ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ ). ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﺑﺄﻧﻬﺎ ﺃﻛﺜﺮ ﺗﺆﺩﺓ ﻭﺃﺷﺪ ﺍﻃﻤﺌﻨﺎﻧﺎ ﻣﻦ ﻣﺮﺗﺒﺔ )ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﻞ( ﻭﻫﻰ ﺗﺴﺘﺤﺴﻦ ﻓﻰ ﻣﻘﺎﻡ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻢ. ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺮﺍﺗﺐ ﻛﻠﻬﺎ ﺟﺎﺋﺰﺓ، ﻟﻤﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ. ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ At-Tamhid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 50 ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ: ﻓﻲ ﻛﻴﻔﻴﺔ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﺎﻟﺘﺮﺗﻴﻞ ﻭﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ، ﻭﺑﺎﻟﺤﺪﺭ ﻭﺍﻟﺘﺨﻔﻴﻒ ﻭﺑﺎﻟﻬﻤﺰ ﻭﺗﺮﻛﻪ، ﻭﺑﺎﻟﻤﺪ ﻭﻗﺼﺮﻩ، ﻭﺑﺎﻟﺒﻴﺎﻥ ﻭﺍﻹﺩﻏﺎﻡ، ﻭﺑﺎﻹﻣﺎﻟﺔ ﻭﺍﻟﺘﻔﺨﻴﻢ. ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﺍﻟﺤﺪﺭ ﻭﺍﻟﻬﺪﺭﻣﺔ، ﻭﻫﻤﺎ ﺳﺮﻋﺔ ]ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ[ ﻣﻊ ﺗﻘﻮﻳﻢ ﺍﻷﻟﻔﺎﻅ، ﻭﺗﻤﻜﻴﻦ ﺍﻟﺤﺮﻭﻑ، ﻟﺘﻜﺜﺮ ﺣﺴﻨﺎﺗﻪ، ﺇﺫ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺑﻜﻞ ﺣﺮﻑ ﻋﺸﺮ ﺣﺴﻨﺎﺕ. ﻭﺃﻥ ﻳﻨﻄﻖ ﺍﻟﻘﺎﺭﺉ ﺑﺎﻟﻬﻤﺰ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻟﻜﺰ، ﻭﺍﻟﻤﺪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻤﻄﻴﻂ، ﻭﺍﻟﺘﺸﺪﻳﺪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻤﻀﻴﻎ، ﻭﺍﻹﺷﺒﺎﻉ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻜﻠﻒ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻬﺎ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 15 ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺤﺪﺭ : ﻓﻬﻮ ﻣﺼﺪﺭ ﻣﻦ ﺣﺪﺭ ﺑﺎﻟﻔﺘﺢ ﻳﺤﺪﺭ ﺑﺎﻟﻀﻢ ﺍﺫﺍ ﺃﺳﺮﻉ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺪﻭﺭ ﺍﻟﺬﻯ ﻫﻮ ﺍﻟﻬﺒﻮﻁ ﻷﻥ ﺍﻹﺳﺮﺍﻉ ﻣﻦ ﻻﺯﻣﻪ. ﻭﻫﻮ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻋﺒﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺇﺩﺭﺍﺝ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺳﺮﻋﺘﻬﺎ ﻣﻊ ﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺘﺠﻮﻳﺪ ﻣﻦ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﻭﺇﺫﻏﺎﻡ ﻭﻗﺼﺮ ﻭﻣﺪ ﻭﻭﻗﻒ ﻭﻭﺻﻞ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻊ ﻣﻼﺣﻈﺔ ﺍﻟﺠﺎﺋﺰ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻗﻮﻑ, ﺇﺫ ﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻟﻮﻗﻒ ﻭﺍﻹﺑﺘﺪﺍﺀ ﻭﺟﻮﺑﺎ ﻭﺍﻣﺘﻨﺎﻋﺎ ﻭﺣﺴﻨﺎ ﻭﻗﺒﺤﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﺄﺗﻰ ﺑﻴﺎﻧﻪ ﻣﻦ ﻣﺤﺎﺳﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺗﺰﻳﺪﻫﺎ ﺭﻭﻧﻘﺎ ﻭﺑﻬﺎﺀ ﻭﺳﺌﻞ ﺍﻷﻫﻮﺍﺯﻯ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﺭ, ﻓﻘﺎﻝ : ﺍﻟﺤﺪﺭ ﻫﻮ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﺴﻤﺤﺔ ﺍﻟﻌﺬﺑﺔ ﺍﻷﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﺘﻰ ﻻ ﺗﺨﺮﺝ ﺍﻟﻘﺎﺭﺉ ﻋﻦ ﻃﺒﺎﻉ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﺍﻟﻌﺮﺑﺎﺀ ﻭﻋﻤﺎ ﺗﻜﻠﻤﺖ ﺑﻪ ﺍﻟﻔﺼﺤﺎﺀ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺑﺎﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﻋﻦ ﺇﻣﺎﻡ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺪ ﻭﺍﻟﻬﻤﺰ ﻭﺍﻟﻘﻄﻊ ﻭﺍﻟﻮﺻﻞ ﻭﺍﻟﺘﺸﺪﻳﺪ ﻭﺍﻟﺘﺨﻔﻴﻒ ﻭﺍﻹﻣﺎﻟﺔ ﻭﺍﻟﺘﻔﺨﻴﻢ ﻭﺍﻹﺧﺘﻼﺱ ﻭﺍﻹﺷﺒﺎﻉ, ﻓﺈﻥ ﺧﺎﻟﻒ ﺷﻴﺄ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻛﺎﻥ ﻣﺨﻄﺌﺎ- ﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ- ﻭﻫﺬﺍﺍﻟﻨﻮﻉ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺤﺪﺭ ﻣﺬﻫﺐ ﻣﻦ ﻗﺼﺮ ﺍﻟﻤﻨﻔﺼﻞ ﻛﺎﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻭﻗﺎﻟﻮﻥ ﻭﺃﺑﻰ ﻋﻤﺮﻭ ﻭﻳﻌﻘﻮﺏ ﻭﺃﺑﻰ ﺟﻌﻔﺮ ﻭﺍﻻﺻﺒﻬﺎﻧﻰ ﻋﻦ ﻭﺭﺵ Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 17 ﻭﺳﺌﻞ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﺭ ﻓﻰ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ, ﻓﻘﺎﻝ : ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺇﺫﺍ ﺣﺪﺭ ﻛﺎﻥ ﺃﺧﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺇﺫﺍ ﺭﺗﻞ ﺃﺧﻄﺄ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻰ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﺨﻒ ﻭﺫﻟﻚ ﻭﺍﺳﻊ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻰ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﺍﻟﻄﺮﻃﻮﺷﻰ : ﻣﻌﻨﻰ ﻫﺬﺍ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻜﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﻮﺍﻓﻖ ﻃﺒﻌﻪ ﻭﻳﺨﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺮﺑﻤﺎ ﻳﻜﻠﻒ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻃﺒﻌﻪ ﻓﻴﺸﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﻘﻄﻌﻪ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺃﻭ ﺍﻹﻛﺜﺎﺭ ﻣﻨﻬﺎ