IMAN, HIJRAH DAN JIHAD.

IMAN, HIJRAH DAN JIHAD.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Baqarah:218) 
Ciri Iman yg utama adalah kecintaan yg sangat kpd Allah yg esa, al malikul haqqul mubiin (QS 2:165). Salah satu nama Allah adalah al Haq atau KEBENARAN. Cinta kpd Kebenaran adalah sesuatu yg fitrah. Manusia cenderung kpd Kebenaran sdmk rupa shg membuatnya rentan mempercayai sesuatu sbg Kebenaran apalagi dlm kondisi yg penuh fitnah dan keraguan. Bahkan mereka menciptakan Tuhan/berhala utk membangun rasa aman. Sebagaimana anak bayi yg memasukkan apa saja dimulutnya utk memenuhi naluri/fitrah laparnya. Rasa lapar memang hilang utk sesaat tp semu dan merusak. BERHALA telah menipu manusia dan menjatuhkan derajatnya ke level seburuk2 binatang. Manusia melupakan jati dirinya yg hakiki, yg bersifat spiritual dan immortal terjebak dlm perlombaan daging yg mortal dan fatamorgana. 

Allah mengarunia manusia hati, akal dan kebebasan kehendak kemudian disempurnakanNya dgn mengutus Nabi dan Rasul Nya beserta Kitab Suci utk sebagai cahaya yg menuntun akal budi menemukan Kebenaran Sejati. Iman sejati tdk terpisahkan dari rasionalitas dan kasih sayang kpd sesama sbg ciri utamanya. Dalam perjalanannya para Nabi selalu menghadapi penentangan dari umatnya. Pendustaan, pengusiran bahkan pembunuhan adalah cerita umum dlm sejarah para Nabi. 
Hijrah secara harfiah berarti berpindah, memisahkan diri, meninggalkan atau menyingkir, adalah upaya para nabi dan pengikutnya utk menyelamatkan diri dan keberlangsungan dakwah dgn menyingkir dr lingkungan yg tdk kondusif dan berbahaya. Dalam sejarah awal Nabi di Mekkah, umat Islam diperintahkan bersabar menghadapi prilaku INTOLERAN penduduk, sampai kemudian Allah perintahkan mrk berhijrah meninggalkan kampung halaman, meninggalkan rumah tinggal, keluarga dan lingkungan mrk. Setelah hijrah ke Medinah, kaum kafir Quraisy tetap tdk puas lalu mengejar mrk. Sbgmn Nabi Musa dan kaumnya hijrah meninggalkan Mesir namun tetap dikejar oleh Fir'aun, begitu pula para nabi lainnya. RasuluLlah diperintahkan bersabar menghadapi prilaku zalim kaum Jahiliyah, sampai kmd diizinkan Allah mengangkat senjata membela diri dgn berJIHAD. Jihad tdk selalu harus diartikan sebagai Perang, tapi secara harfiah bermakna berusaha sungguh2 dgn mengerahkan segala daya upaya. Upaya keras dlm bentuk pemikiran disebut ijtihad sedang dlm bentuk spiritual disebut MUJAHADAH. 
KETIKA dihadapkan jihad dlm arti Perang defensif, Nabi selalu diperintahkan mengupayakan perdamaian dan berinisiatif serta siap sedia menerima uluran damai, sampai terjadinya perjanjian Hudaibiah yg sebenarnya banyak merugikan umat Islam, bahkan ada bbrp sahabat keberatan namun nabi tetap memerintahkan sabar. Kemudian musuh, kafir Quraisy, kembali menunjukkan kezaliman dg mengkhianati perjanjian. Allah memerintahkan utk TIDAK membalas pelanggaran atas perjanjian tsb dg ikut membatalkan sepihak, nabi diperintahkan utk berkomunikasi mengklarifikasi tindakan pelanggaran tsb dan mengembalikan perjanjian tsb kpd mereka. 
Islam tidak pernah dan tidak membenarkan kekerasan kecuali dalam rangka membela diri (defensif) setelah mengupayakan dialog dan setelah diizinkan oleh Allah utk mengangkat senjata. Kita menolak penggunaan kekerasan dalam agama kpd penganut agama lain (laa ikraha fiddiin, tidak ada paksaan dlm agama, lakum diinukum wa liya diin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku, fa man sya'a fal yu'min wa man sya'a fal yakfur, siapa yg mau silahkan beriman siapa yg mau silahkan kafir) apalagi kpd sesama umat Islam. Kita tegas menolak, mengutuk dan berlepas tangan terhadap mereka yg mengatas namakan agama utk melakukan pemaksaan, pengusiran dan bentuk2 kekerasan lainnya apalagi melakukan kekejaman dan penyiksaan. 
Ketika, dengan berpaksa, umat Islam harus berperang maka itu pun dilakukan dg standar etika dan moral serta prinsip ksatria yg sangat tinggi di medan perang mau pun pasca perang. NABI selalu mengutamakan perang tanding satu lawan satu, sedapat mungkin berusaha mengurangi korban di kalangan prajurit kedua belah pihak yg umumnya hanya ikut2an tdk tahu apa2, korban dari ambisi pemimpinnya dengan iming2 duniawi maupun ukhrawi. Dalam setiap Perang tanding tsb, beliau selalu mendahulukan petarung dari pihak keluarga nabi, khususnya Ali bin Abi Thalib sblm mengajukan yg lain. 
Usai Perang, Nabi, keluarga dan sahabat memberi teladan luar biasa dlm perlakuan terhadap tawanan perang. Bagaimana mereka diberi tempat tinggal dan makan yg layak. Bahkan Nabi dan Ahlul baytnya rela tdk makan demi memberi makan tawanan perang yg kelaparan.